sumutpos.jawapos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan manusia dan ruang hidup masyarakat. Persoalan ini menjadi perhatian sejumlah seniman di Jambi dan Palembang yang menyuarakan kritik melalui karya seni visual.
Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (12/10/2026), di Jambi, kritik terhadap karhutla disampaikan melalui potret perempuan berbusana adat yang mengenakan masker hingga respirator di tengah lahan bekas kebakaran. Karya tersebut memperlihatkan kontras antara identitas budaya yang terus dijaga dan kondisi lingkungan yang rusak akibat kebakaran.
Busana adat dalam potret itu merepresentasikan tradisi dan identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi. Namun, kehadiran masker dan respirator menggambarkan kenyataan ketika udara yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari justru mengancam kesehatan.
Baca Juga: Lalapan Bukan Tidak Baik, tapi Sayuran Ini Lebih Sehat kalau Dimasak daripada Mentah
Perpaduan kedua unsur tersebut menghadirkan pesan tentang dampak karhutla yang melampaui kerusakan vegetasi. Kebakaran juga memengaruhi kehidupan masyarakat, termasuk keberlangsungan tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan alam.
Sementara itu, di Palembang, persoalan karhutla diangkat melalui pameran fotografi dan lukisan yang digelar Jaga Api Art Exhibition melalui akun Instagram @menjaga.api.
Melalui medium fotografi dan lukisan, para seniman mengajak masyarakat melihat karhutla dari perspektif yang lebih luas. Persoalan ini tidak semata-mata berkaitan dengan hutan dan lahan yang terbakar, tetapi juga kualitas udara, kesehatan manusia, serta keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga: Gubernur Muda Jepang Takato Ishida Viral, Disebut Mirip Toji Fushiguro
Karya seni menjadi medium untuk merekam sekaligus menyampaikan kegelisahan terhadap kerusakan ekologis. Melalui pendekatan visual, dampak karhutla dihadirkan dalam bentuk yang lebih dekat dengan pengalaman manusia, mulai dari ancaman terhadap kesehatan hingga perubahan ruang hidup.
Pameran tersebut juga membuka ruang bagi publik untuk merefleksikan hubungan antara manusia dan alam. Lingkungan bukan sekadar latar kehidupan, melainkan ruang tempat masyarakat membangun identitas, menjalankan tradisi, dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya.
Kritik yang disampaikan para seniman di Jambi dan Palembang memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat diangkat melalui beragam pendekatan kreatif. Seni tidak hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga medium untuk membangun kesadaran mengenai dampak kerusakan alam.
Baca Juga: Tak Perlu Gosok Keras! Begini Cara Meluruhkan Kerak Putih di Teko Listrik
Ketika asap dan kebakaran mengancam kehidupan, pesan yang disampaikan melalui karya-karya tersebut mengingatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada lahan yang hangus. Ada kesehatan yang dipertaruhkan, kebudayaan yang membutuhkan ruang untuk tumbuh, serta lingkungan yang perlu dijaga agar tetap layak dihuni.(lin)
Editor : Redaksi