Sumutpos.jawapos com - Beberapa tahun terakhir, pemandangan tak biasa mulai sering dijumpai di ruang keluarga Indonesia. Jika dulu drama Korea identik dengan penonton perempuan dan anak muda, kini giliran drama China atau dracin yang diam-diam mencuri perhatian segmen penonton tak terduga: bapak-bapak.
Fenomena bapak-bapak Indonesia yang gemar menonton dracin bukan lagi hal langka. Dari grup WhatsApp keluarga, tongkrongan warung kopi, hingga kolom komentar media sosial, obrolan soal judul dracin, aktor favorit, hingga alur cerita kerajaan China kerap mencuat. Salah satunya seperti akun TikTok TikTok @jazulrajinmengajiii mengunggah konten viral berjudul “Top 3 Dracin Rekomendasi Bapak-bapak”, lengkap dengan judul drama favoritnya, dilansir Jumat (9/1/2026).
Fenomena ini pun menarik untuk dicermati sebagai bagian dari perubahan budaya tontonan di Indonesia.
Salah satu alasan utama dracin digemari bapak-bapak adalah tema ceritanya yang dianggap lebih “maskulin”. Banyak drama China mengangkat kisah peperangan, strategi politik, persaingan kekuasaan, balas dendam, hingga perjalanan tokoh dari nol menjadi penguasa.
"Dracin itu ceritanya perang, strategi, balas dendam. Bukan cuma soal cinta-cintaan. Pantes bapak-bapak betah nonton," aku netizen di TikTok.
Tema semacam ini dinilai dekat dengan selera bapak-bapak yang menyukai cerita penuh intrik, taktik, dan perjuangan hidup. Dibandingkan drama romantis yang emosional, dracin menawarkan alur panjang dengan konflik berlapis yang menuntut fokus dan ketekunan mengikuti cerita.
Selain itu, karakter utama pria dalam dracin sering digambarkan cerdas, sabar, dan bermental baja; nilai yang kerap dianggap relevan dengan pengalaman hidup para kepala keluarga.
Melansir berbagai sumber, Jumat (9/1/2026), produksi drama China dikenal memiliki visual yang megah. Kostum kerajaan, setting istana, seni bela diri, hingga sinematografi yang serius menjadi daya tarik tersendiri. Bagi bapak-bapak, tontonan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga pengalaman visual yang memuaskan.
Durasi episode yang panjang dan jumlah episode yang banyak justru menjadi kelebihan. Dracin dianggap cocok sebagai “teman setia” di waktu senggang, baik setelah pulang kerja, saat akhir pekan, maupun menemani waktu istirahat di rumah.
Tak sedikit bapak-bapak yang mengaku menikmati proses “maraton” dracin karena ceritanya berkembang perlahan namun konsisten.
Di balik kisah fiksi dan sejarah, dracin kerap menyelipkan nilai-nilai kehidupan seperti kesetiaan keluarga, hormat pada orang tua, perjuangan hidup, serta konsekuensi dari ambisi dan kekuasaan. Nilai-nilai ini dianggap sejalan dengan prinsip hidup yang dipegang banyak bapak-bapak Indonesia.
Beberapa dracin bahkan mengangkat konflik rumah tangga, hubungan ayah dan anak, serta dilema moral dalam mengambil keputusan besar. Hal ini membuat penonton merasa “terwakili” dan lebih mudah terhubung secara emosional dengan cerita.
Meningkatnya akses ke platform streaming turut mempercepat fenomena ini. Dracin kini mudah ditonton melalui ponsel, televisi pintar, atau tablet dengan subtitle bahasa Indonesia yang semakin berkualitas.
Media sosial juga berperan besar. Cuplikan adegan epik, rekomendasi judul dracin, hingga diskusi antarpenonton membuat rasa penasaran semakin besar. Banyak bapak-bapak yang awalnya “sekadar ikut-ikutan” akhirnya justru menjadi penonton setia.
Tak jarang pula, dracin menjadi bahan obrolan lintas generasi di dalam keluarga, menciptakan momen kebersamaan yang sebelumnya jarang terjadi.
Fenomena bapak-bapak doyan nonton drama China menunjukkan bahwa selera hiburan terus berkembang dan tidak lagi terikat pada usia atau stereotip gender. Dracin berhasil menembus batas tersebut dengan menawarkan cerita yang kuat, visual yang menarik, dan nilai-nilai universal.
Bagi sebagian bapak-bapak, menonton dracin bukan hanya soal mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi cara menikmati cerita hidup yang kompleks tentang perjuangan, kekuasaan, dan pilihan-pilihan sulit yang tak jauh dari realitas.
Fenomena ini pun membuktikan satu hal: selera tontonan bisa berubah, tapi kebutuhan akan cerita yang bermakna akan selalu ada, di usia berapa pun. (lin)
Editor : Redaksi