Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Love Scamming, Modus Penipuan Berkedok Cinta yang Kian Marak di Dunia Digital

Redaksi • Kamis, 22 Januari 2026 | 00:16 WIB
ilustrasi love scamming. (Freepik.com)
ilustrasi love scamming. (Freepik.com)

sumutpos.jawapos.com – Perkembangan teknologi digital membawa kemudahan dalam menjalin hubungan, termasuk mencari pasangan melalui media sosial dan aplikasi kencan.

Namun di balik kemudahan itu, muncul ancaman serius berupa love scamming, yakni penipuan yang memanfaatkan perasaan cinta dan kepercayaan korban.

Love scamming atau romance scam merupakan kejahatan siber yang dilakukan dengan cara membangun hubungan emosional palsu.

Pelaku biasanya menggunakan identitas fiktif dan cerita hidup yang dirancang sedemikian rupa agar terlihat meyakinkan.

Setelah kepercayaan korban terbentuk, pelaku mulai melancarkan aksinya dengan meminta bantuan finansial.

Melansir situs resmi kominfo.go.id, Rabu (21/1/2026), modus ini kerap diawali dengan pendekatan intens melalui pesan pribadi.

Pelaku sering tampil dengan profil yang tampak ideal, berpenampilan menarik, serta mengaku memiliki profesi bergengsi seperti tentara, dokter, atau pebisnis yang bekerja di luar negeri. Hubungan pun berkembang cepat, disertai ungkapan cinta dan janji masa depan.

Dalam prosesnya, pelaku perlahan menciptakan situasi darurat. Alasan yang digunakan beragam, mulai dari kebutuhan biaya pengobatan, masalah bisnis, pengurusan dokumen, hingga pengiriman hadiah yang tertahan di bea cukai. Tak jarang, korban diminta mengirim uang dalam jumlah besar secara bertahap.

Ciri lain yang sering muncul adalah keengganan pelaku untuk bertemu langsung atau melakukan panggilan video.

Setiap permintaan verifikasi identitas biasanya dijawab dengan alasan pekerjaan, kondisi darurat, atau keterbatasan jaringan. Korban juga kerap diajak berpindah dari platform resmi ke aplikasi pesan pribadi agar komunikasi lebih leluasa dan sulit dilacak.

Dampak love scamming tidak hanya sebatas kerugian finansial. Banyak korban mengalami tekanan psikologis, rasa malu, hingga trauma emosional yang mendalam. Hilangnya kepercayaan terhadap orang lain menjadi salah satu efek jangka panjang yang paling dirasakan korban.

Pakar keamanan siber mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada dalam menjalin hubungan secara daring.

Sikap kritis, tidak mudah terbawa emosi, serta menunda kepercayaan penuh menjadi langkah penting untuk mencegah menjadi korban.

Informasi pribadi dan data keuangan sebaiknya tidak dibagikan kepada orang yang belum benar-benar dikenal.

Bagi masyarakat yang merasa menjadi korban love scamming, langkah pertama yang disarankan adalah menghentikan komunikasi dengan pelaku dan mengamankan seluruh bukti percakapan maupun transaksi.

Laporan juga dapat disampaikan kepada platform terkait dan aparat berwenang agar kasus serupa tidak kembali menelan korban.

Fenomena love scamming menjadi pengingat bahwa kejahatan digital terus berkembang mengikuti pola perilaku manusia.

Mencari pasangan secara online sah-sah saja, namun kewaspadaan tetap menjadi kunci agar perasaan tidak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. (lin)

Editor : Redaksi
#love scamming