sumutpos.jawapos.com - Sebuah bar di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang, menjadi bahan perbincangan hangat setelah menerapkan kebijakan yang tidak lazim. Bar tersebut secara terbuka menyatakan bahwa mereka hanya menargetkan pengunjung berusia di bawah 40 tahun. Kebijakan ini pun memicu perdebatan luas setelah diangkat oleh media internasional dan viral di media sosial.
Shibuya dikenal sebagai pusat hiburan anak muda di Tokyo, dengan deretan bar dan klub yang identik dengan suasana ramai serta energi tinggi. Bar yang menuai sorotan ini bahkan memasang tulisan “U-40 (under 40)” di pintu masuk sebagai penanda segmen utama pengunjung yang mereka sasar.
Melansir Instagram @odditycentral, Selasa (27/1/20226), disebutkan bahwa sebagian besar tamu yang datang memang berasal dari kalangan usia muda. Saat diliput stasiun televisi lokal, sekitar 90 persen pengunjung yang berada di dalam bar berusia di bawah 40 tahun, sesuai dengan konsep yang diusung pengelola.
Pihak bar menjelaskan bahwa kebijakan tersebut muncul dari masukan pelanggan tetap. Banyak pengunjung muda merasa lebih nyaman menikmati suasana bar yang riuh dan energik tanpa canggung dengan perbedaan generasi. Mereka ingin tempat tersebut tetap mempertahankan atmosfer santai dan penuh semangat sebagai identitas utama.
Meski begitu, pemilik bar menegaskan bahwa aturan usia tersebut tidak bersifat mutlak. Pengunjung berusia di atas 40 tahun tetap diperbolehkan masuk selama merasa nyaman dengan suasana di dalam bar. Menurutnya, usia hanyalah angka dan tidak sedikit orang yang lebih tua tetap memiliki jiwa muda yang sejalan dengan konsep tempat tersebut.
Kebijakan ini semakin menuai perhatian setelah diunggah oleh akun Instagram @odditycentral. Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar netizen dari berbagai negara dengan pendapat yang terbelah.
Sebagian netizen mendukung langkah bar tersebut dan menilai kebijakan itu sebagai hak pemilik usaha. “Ini bisnis privat, mereka berhak menentukan konsep dan target pasar,” tulis seorang pengguna Instagram. Ada pula yang berkomentar, “Sama seperti klub yang membatasi usia minimum, ini hanya soal positioning.”
Namun, tak sedikit netizen yang mengkritik kebijakan tersebut karena dianggap diskriminatif. “Bayangkan kalau ini dibalik, hanya untuk usia di atas 40 tahun, pasti tetap jadi masalah,” tulis netizen lain. Komentar bernada satire juga bermunculan, seperti, “Tunggu sampai pemilik barnya sendiri berusia 40 tahun.”
Beberapa warganet bahkan menyoroti fenomena penuaan populasi di Jepang. “Jepang negara dengan penduduk menua, tapi malah membatasi usia di tempat hiburan,” tulis seorang netizen, mempertanyakan relevansi kebijakan tersebut di tengah kondisi sosial Jepang saat ini.
Perdebatan ini menunjukkan bagaimana sebuah konsep bisnis sederhana dapat berkembang menjadi diskursus global ketika menyentuh isu sensitif seperti usia, diskriminasi, dan inklusivitas, terutama setelah viral di media sosial. (lin)
Editor : Redaksi