sumutpos.jawapos.com - Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) terus menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya viral isi percakapan grup mahasiswa yang dinilai melecehkan perempuan, kini muncul babak baru: beredarnya chat grup orang tua terduga pelaku.
Tangkapan layar percakapan tersebut ramai dibahas di media sosial dan memicu reaksi beragam dari warganet.
Melansir Instagram @cretivox, Rabu (15/4/2026), dalam percakapan yang beredar, sejumlah orang tua mahasiswa disebut meminta pihak kampus agar tidak menjatuhkan sanksi berat, khususnya Drop Out (DO). Mereka mengkhawatirkan masa depan anak-anak mereka jika sampai dikeluarkan dari kampus.
Baca Juga: Kuota Penuh, 201 Jemaah Haji Sergai Siap Berangkat ke Tanah Suci 2026
Salah satu pesan yang viral berbunyi permohonan agar kampus mempertimbangkan keputusan dengan bijak dan tidak langsung memberikan hukuman maksimal.
Selain itu, ada juga pandangan bahwa mahasiswa yang terlibat masih bisa dibina dan diberi kesempatan memperbaiki diri, sehingga hukuman berat dinilai bukan solusi terbaik.
Kasus ini mencuat setelah beredarnya tangkapan layar percakapan grup yang diduga berisi 16 mahasiswa FH UI. Dalam chat tersebut, terdapat komentar bernada seksual dan objektifikasi terhadap perempuan, termasuk mahasiswi dan dosen.
Baca Juga: FWD Insurance Apresiasi Agen Berprestasi Lewat Agency Awards Night 2026
Pihak kampus sendiri telah menerima laporan sejak 12 April 2026 dan langsung melakukan penelusuran serta verifikasi terhadap kasus tersebut.
Universitas Indonesia menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan seksual, termasuk verbal di ruang digital, merupakan pelanggaran serius terhadap nilai akademik dan etika.
Pihak kampus menyatakan akan menindak tegas jika terbukti terjadi pelanggaran, dengan sanksi yang bisa mencapai DO hingga kemungkinan proses hukum jika ditemukan unsur pidana.
Baca Juga: Pergi Ujian, Pelajar SMK Tewas Usai Tabrakan di Jalinsum Suka Raja
Munculnya chat orang tua ini memantik perdebatan. Sebagian publik menilai wajar jika orang tua membela anaknya, namun tak sedikit yang mengkritik sikap tersebut karena dianggap mengabaikan perspektif korban.
Kasus ini pun memperluas diskusi tentang budaya kampus, tanggung jawab keluarga, serta pentingnya penanganan serius terhadap kekerasan seksual, termasuk yang terjadi di ruang digital.
Hingga kini, proses investigasi masih berlangsung. Kampus juga meminta semua pihak untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi serta menghormati proses yang sedang berjalan.
Baca Juga: Pergi Ujian, Pelajar SMK Tewas Usai Tabrakan di Jalinsum Suka Raja
Kasus ini menjadi pengingat bahwa isu pelecehan seksual tidak hanya soal pelaku dan korban, tetapi juga menyangkut lingkungan sosial yang lebih luas, termasuk bagaimana keluarga merespons ketika anak mereka terlibat dalam persoalan serius.(lin)
Editor : Redaksi