Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Anak Punk Gunungkidul Beralih Jadi Petani Muda, Bangun Harapan dari Lahan Desa

Redaksi • Minggu, 19 April 2026 | 16:40 WIB
Komunitas punk di Gunung Kidul memilih jalur berbeda: menjadi petani muda dan mengolah lahan secara mandiri. (Instagram @cretivox)
Komunitas punk di Gunung Kidul memilih jalur berbeda: menjadi petani muda dan mengolah lahan secara mandiri. (Instagram @cretivox)

 

sumutpos.jawapos.com – Perubahan wajah pertanian di pedesaan mulai terlihat dari langkah tak biasa sekelompok anak muda di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Komunitas yang sebelumnya dikenal dengan identitas punk kini memilih jalur berbeda: menjadi petani muda dan mengolah lahan secara mandiri.

Melansir Instagram @cretivox, Minggu (19/4/2026), fenomena ini bermula dari kegelisahan atas minimnya regenerasi petani. Banyak lahan pertanian di desa yang perlahan ditinggalkan, sementara generasi muda lebih memilih merantau ke kota. Kondisi tersebut mendorong sejumlah pemuda untuk kembali ke kampung halaman dan mencoba menghidupkan kembali sektor pertanian.

Salah satu penggeraknya, SiBagz, menyebut keputusan itu lahir dari kesadaran sederhana. Ia dan rekan-rekannya mulai melihat bahwa profesi petani yang dulu dianggap sebelah mata justru memiliki peran penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat.

Baca Juga: Akademisi Nilai Kunjungan Presiden ke Gudang Bulog Konfirmasi Efektivitas Sistem Pangan Nasional

“Kalau bukan kita yang melanjutkan, siapa lagi?” menjadi pertanyaan yang kemudian mendorong mereka turun langsung ke sawah.

Dengan modal terbatas, mereka mulai mengelola lahan sekitar 1.500 meter persegi. Proses awal tidak berjalan mudah. Minimnya pengalaman membuat mereka harus belajar dari nol, mulai dari teknik pengolahan tanah hingga perawatan tanaman.

Dalam praktiknya, komunitas ini memilih metode pertanian organik. Mereka menghindari penggunaan bahan kimia dan memanfaatkan bahan alami seperti urin ternak serta limbah dapur untuk pupuk. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga menjaga kualitas tanah dalam jangka panjang.

Baca Juga: Pelari Jepang Taklukkan Sahara dengan Jas, Aksi Nyeleneh di Lomba Paling Brutal Dunia

Seiring waktu, hasil mulai terlihat. Panen bawang merah menjadi salah satu keberhasilan awal yang memberi dampak ekonomi nyata bagi anggota komunitas. Dari hasil tersebut, mereka bahkan mampu melunasi utang yang sempat digunakan sebagai modal awal.

Perkembangan komunitas ini juga cukup signifikan. Dari awalnya hanya belasan orang, kini jumlah anggota bertambah dan melibatkan lebih banyak pemuda desa. Kegiatan mereka tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga edukasi dan pendampingan bagi generasi muda lain yang tertarik pada dunia pertanian.

Program pelatihan sederhana seperti penanaman cabai dalam polybag menjadi pintu masuk bagi pemula. Selain itu, mereka juga mulai memanfaatkan lahan tidur agar kembali produktif.

Baca Juga: Polsek Batang Kuis Ringkus Pelaku Curanmor dan Pembongkaran Rumah, Terancam 9 Tahun Penjara

Keberadaan komunitas petani muda ini perlahan mengubah persepsi masyarakat. Identitas punk yang sebelumnya kerap dipandang negatif kini bergeser menjadi simbol kemandirian dan kerja produktif.

Lebih dari sekadar aktivitas ekonomi, gerakan ini mencerminkan upaya membangun ketahanan pangan dari tingkat lokal. Di tengah tantangan sektor pertanian, seperti alih fungsi lahan dan minimnya tenaga kerja muda, langkah yang dilakukan komunitas ini menjadi contoh alternatif solusi berbasis masyarakat.

Kisah transformasi anak punk menjadi petani muda ini juga ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet memberikan apresiasi atas langkah berani yang dianggap tidak biasa tersebut.

“Ini baru keren, berkarya tanpa banyak gaya. Salut!” tulis netizen di kolom komentar.

Komentar lain datang dari akun lain yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk perubahan positif. “Dari yang sering dipandang sebelah mata, sekarang justru jadi contoh. Semoga konsisten.”

Tak sedikit pula yang merasa terinspirasi. “Jadi mikir, kenapa kita yang punya kesempatan malah malas ke desa. Mereka aja bisa mulai dari nol,” tulis netizen lainnya.

Baca Juga: Status Tahanan Kota, Oknum Ketua OKP di Langkat Dituntut 12 Bulan Penjara 

Namun, ada juga netizen yang mengingatkan tantangan ke depan. “Semoga bukan sekadar tren sesaat. Bertani itu butuh ketahanan, bukan cuma semangat awal,” komentar netizen lagi.

Terlepas dari beragam tanggapan, kisah ini memperlihatkan satu hal: perubahan selalu mungkin terjadi, bahkan dari kelompok yang selama ini kerap dipandang dengan stigma negatif.(lin)

Editor : Redaksi
#Petani Muda #Gunung kidul #inspirasi #anak muda #anak punk