Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Siswa Indonesia Temukan Celah Sistem NASA, Masuk Hall of Fame

Redaksi • Jumat, 24 April 2026 | 17:26 WIB
Rehan, siswa SMAN 8 Pinrang, Sulawesi Selatan, yang lebih dulu menemukan celah keamanan pada sistem NASA pada Januari 2026. (Instagram @pandemictalks)
Rehan, siswa SMAN 8 Pinrang, Sulawesi Selatan, yang lebih dulu menemukan celah keamanan pada sistem NASA pada Januari 2026. (Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com - Di balik layar komputer, tanpa sorotan berlebih, dua pelajar Indonesia berhasil mencatatkan namanya dalam sistem pengakuan NASA. Mereka bukan ilmuwan profesional, melainkan siswa sekolah yang tekun belajar secara mandiri.

Melansir Instagram @pandemictalks, Jumat (24/4/2026), adalah Rehan, siswa SMAN 8 Pinrang, Sulawesi Selatan, yang lebih dulu menemukan celah keamanan pada sistem NASA pada Januari 2026. Penemuan itu dilakukan melalui program Vulnerability Disclosure Program (VDP), sebuah skema resmi yang memungkinkan publik menguji keamanan sistem secara legal.

Dari upayanya tersebut, Rehan berhasil mengidentifikasi kerentanan hingga mampu mengakses data tertentu secara sah untuk tujuan pelaporan keamanan. Temuannya kemudian diverifikasi oleh tim keamanan NASA dan membuat namanya masuk dalam daftar kehormatan atau Hall of Fame.

Baca Juga: Tragedi di Laut Belawan, ABK Jatuh dari Palka Kapal

“Awalnya saya mendengar adanya VDP… dan berhasil menemukan bug,” ujarnya, menggambarkan langkah awal yang berangkat dari rasa ingin tahu sederhana.

Tidak ada laboratorium canggih atau fasilitas khusus. Rehan mengasah kemampuan keamanan siber secara autodidak sejak SMP, memanfaatkan sumber belajar gratis seperti internet dan video daring. Dukungan keluarga termasuk penyediaan laptop menjadi titik penting dalam perkembangan kemampuannya.

Prestasinya tidak berhenti di NASA. Ia juga tercatat menerima apresiasi dari berbagai institusi, mulai dari kementerian di dalam negeri hingga universitas luar negeri seperti TU Dresden, University of Oslo, dan San Diego State University.

Cerita serupa datang dari Firoos Ghathfaan Ramadhan, siswa SMP IT di Subang, Jawa Barat. Berbeda pendekatan, Firoos memanfaatkan metode Open Source Intelligence (OSINT) bersama komunitasnya untuk menemukan celah pada sistem NASA.

Baca Juga: 1.079 CJH Sumut Telah Bertolak ke Tanah Suci

Ia belajar secara kolaboratif, diskusi daring, berbagi temuan, hingga pengujian bersama. Tidak semua percobaan berhasil, namun proses itu justru menjadi bagian penting dalam pembelajaran.

Motivasi Firoos juga menarik: selain mengembangkan kemampuan, ia menjadikan pengalaman ini sebagai pijakan untuk meraih beasiswa internasional di masa depan.

Kabar keberhasilan dua pelajar ini cepat menyebar di media sosial, memicu gelombang reaksi dari warganet. Nada yang muncul didominasi rasa bangga, meski tak sedikit yang menyelipkan refleksi tentang sistem pendidikan dan dukungan terhadap talenta muda.

Di kolom komentar berbagai unggahan, apresiasi mengalir deras.

“Anak daerah bisa tembus NASA, ini bukti kalau kesempatan itu ada buat semua,” tulis salah satu pengguna.

Baca Juga: Ahli Waris Gugat APIPSU ke PN Medan, Status Pengurus dan Aset Yayasan Dipersoalkan

“Keren banget, belajar otodidak tapi hasilnya mendunia. Salut!” timpal warganet lain.

Namun, di balik pujian, muncul pula nada kritis yang mempertanyakan ekosistem pendukung di dalam negeri.

“Semoga talenta seperti ini tidak malah dihargai di luar, tapi kurang diperhatikan di dalam negeri,” komentar seorang pengguna.

“Banyak anak pintar, tapi belum semua punya akses dan fasilitas,” tulis akun lainnya.

Sebagian warganet juga melihat kisah ini sebagai pemantik semangat bagi generasi muda.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Sumbagut Pastikan Kesiapan Avtur untuk Penerbangan Haji 2026

“Ini yang harus diviralkan, biar anak-anak lain termotivasi belajar teknologi,” tulis komentar lain yang ramai disukai.

Penemuan celah keamanan oleh para siswa ini bukan sekadar keberhasilan teknis. Dalam dunia siber, mereka disebut white hacker, pihak yang justru membantu memperkuat sistem dengan menemukan kelemahan sebelum disalahgunakan.

Program seperti VDP yang dijalankan NASA membuka ruang partisipasi global, sekaligus menegaskan bahwa keamanan digital adalah tanggung jawab bersama, lintas negara dan usia.(lin)

Editor : Redaksi
#Siswa Indonesia #Cyber Security #Bug Hunter #Talenta Muda #nasa