sumutpos.jawapos.com - Di tengah riuhnya percakapan media sosial tentang biaya hidup yang kian menanjak, muncul satu fakta yang menggambarkan perubahan besar dalam pola kerja masyarakat Indonesia. Sekitar 19,3 juta hingga 19,7 juta pekerja kini diketahui memiliki pekerjaan sampingan atau freelance. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin dari realitas ekonomi yang dihadapi jutaan orang setiap hari.
Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (4/5/2026), fenomena ini perlahan menggeser makna bekerja. Jika dulu satu pekerjaan tetap dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, kini banyak pekerja merasa perlu mencari tambahan penghasilan. Bukan karena ambisi semata, melainkan dorongan kebutuhan yang semakin kompleks, mulai dari biaya pangan, tempat tinggal, hingga pendidikan dan kesehatan.
Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2023 mencatat sekitar 15,45 persen pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan sampingan. Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, sekaligus mempertegas bahwa side hustle bukan lagi fenomena pinggiran, melainkan sudah menjadi arus utama.
Baca Juga: Bupati Labura Sambut Pangdam I/Bukit Barisan, Perkuat Sinergi di Wilayah Kodim 0209/LB
Di balik angka itu, terselip cerita tentang strategi bertahan. Banyak pekerja formal yang memanfaatkan waktu luang untuk menjadi penulis lepas, desainer grafis, pengemudi transportasi daring, hingga berjualan secara online. Sementara itu, bagi pekerja informal, yang jumlahnya mencapai sekitar 58 hingga 59 persen dari total tenaga kerja, freelance justru menjadi bagian dari keseharian yang tak terpisahkan.
Perkembangan ekonomi digital turut mempercepat tren ini. Platform kerja lepas dan marketplace membuka peluang baru yang lebih fleksibel, memungkinkan siapa saja untuk menawarkan keahlian tanpa terikat ruang dan waktu. Inilah yang kemudian dikenal sebagai gig economy, sebuah sistem kerja berbasis proyek yang mengedepankan fleksibilitas.
Namun, fleksibilitas ini datang dengan konsekuensi. Tidak semua pekerjaan freelance memberikan jaminan pendapatan yang stabil. Ketidakpastian penghasilan, minimnya perlindungan sosial, hingga potensi kelelahan akibat bekerja ganda menjadi tantangan yang harus dihadapi para pekerja.
Di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan daya adaptasi masyarakat Indonesia yang tinggi. Ketika kondisi ekonomi menuntut lebih, pekerja tidak tinggal diam. Mereka mencari celah, memanfaatkan peluang, dan membangun sumber penghasilan alternatif.
Baca Juga: Tekan Pengangguran, Deli Serdang Siap Gelar Job Fair Perdana
Di media sosial, fenomena ini menuai beragam respons. Banyak warganet yang merasa “terwakili” dengan kondisi tersebut.
“Sekarang bukan lagi soal mau atau tidak, tapi harus. Gaji utama habis buat kebutuhan dasar,” tulis seorang pengguna di platform X.
Komentar lain menyoroti sisi kelelahan yang jarang terlihat. “Pagi kerja kantoran, malam nge-freelance. Capek, tapi kalau nggak gitu, nggak cukup,” ungkap netizen lainnya.
Ada pula yang melihat tren ini sebagai tanda perubahan zaman. “Dulu kerja sampingan itu pilihan, sekarang jadi kewajiban. Ekonomi memang lagi berat,” tulis seorang pengguna.
Namun, tidak sedikit yang mencoba melihat sisi positifnya. “Freelance bikin kita punya banyak skill dan nggak bergantung satu sumber penghasilan,” komentar netizen lain.
Baca Juga: Hardiknas 2026 di Labusel: Dari Ruang Kelas, Masa Depan Bangsa Ditempa
Meski begitu, kekhawatiran tetap muncul, terutama terkait keseimbangan hidup. “Work-life balance makin sulit. Istirahat jadi mewah,” tulis salah satu komentar yang ramai disukai.
Ragam komentar tersebut memperlihatkan satu benang merah: freelance bukan lagi sekadar tren atau gaya hidup, melainkan respons nyata terhadap tekanan ekonomi. Di balik layar, jutaan pekerja terus beradaptasi, menyusun strategi, mengatur waktu, dan menjaga stamina, demi memastikan hidup tetap berjalan.(lin)
Editor : Redaksi