sumutpos.jawapos.com – Sebuah kisah inspiratif tentang kegigihan seorang ilmuwan Indonesia kembali menjadi sorotan. Berawal dari sebuah penelitian yang dianggap mustahil, inovasi karya putra bangsa ini akhirnya menarik perhatian dunia dan ditawar hingga triliunan rupiah oleh negara-negara Timur Tengah.
Melansir Instagram @lambegosiip, Senin (1/6/2026), sosok tersebut adalah Ali Zum Mashar, seorang ilmuwan pertanian asal Demak yang pada 1999 berhasil mengembangkan formula pupuk hayati berbasis bioteknologi. Temuannya dikenal luas dengan sebutan “Mikroba Google”, sebuah konsorsium mikroorganisme yang diklaim mampu memperbaiki kualitas tanah pada berbagai kondisi ekstrem.
Saat pertama kali diperkenalkan, gagasan tersebut tidak langsung mendapat sambutan positif. Ali mengaku harus menghadapi keraguan dari berbagai pihak. Inovasinya dinilai terlalu ambisius dan dianggap sulit diterima secara ilmiah karena diklaim mampu memulihkan lahan kritis, termasuk tanah gambut yang rusak dan wilayah dengan tingkat kesuburan sangat rendah.
Keterbatasan dukungan tidak membuatnya menghentikan penelitian. Dengan tekad kuat, Ali melanjutkan pengembangan teknologi tersebut secara mandiri. Bahkan, ia rela mengorbankan berbagai aset pribadi demi membiayai riset yang diyakininya dapat memberikan manfaat besar bagi sektor pertanian nasional.
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Teknologi yang dikembangkannya mulai menunjukkan efektivitas dalam meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas pertanian. Sejumlah lahan gambut yang sebelumnya sulit ditanami disebut berhasil diubah menjadi area pertanian produktif dengan hasil panen yang meningkat signifikan.
Keberhasilan tersebut kemudian menarik perhatian berbagai pihak, termasuk dari luar negeri. Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki tantangan besar dalam pengelolaan lahan pertanian disebut tertarik memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung program penghijauan dan pengembangan pertanian di wilayah gurun.
Baca Juga: Polsek Aek Natas Ringkus Pengedar Sabu di Kebun Sawit, Sita 7,40 Gram Narkotika
Minat internasional itu bahkan disertai tawaran bernilai fantastis untuk memperoleh hak paten teknologi yang dikembangkannya. Namun, Ali memilih menolak berbagai tawaran tersebut.
Baginya, hasil penelitian yang lahir dari perjuangan panjang itu merupakan aset strategis yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa. Keputusan tersebut menjadi bukti bahwa semangat nasionalisme masih menjadi landasan utama dalam setiap langkah pengembangan inovasinya.
Kisah perjuangan Ali Zum Mashar juga menuai beragam reaksi dari netizen di media sosial. Banyak yang mengaku kagum dengan kegigihan sang ilmuwan yang tetap melanjutkan penelitian meski sempat diremehkan dan tidak mendapatkan dukungan.
"Ini bukti bahwa ilmuwan Indonesia tidak kalah hebat. Sayangnya sering kali justru kurang dihargai di negeri sendiri," tulis salah seorang pengguna media sosial.
Komentar lain menyebut kisah tersebut sebagai contoh nyata bahwa inovasi besar membutuhkan keberanian dan pengorbanan. "Beliau sampai menjual rumah demi penelitian. Tidak semua orang sanggup melakukan itu. Salut untuk dedikasinya," tulis netizen lainnya.
Sebagian warganet juga menyoroti keputusan Ali yang menolak tawaran bernilai fantastis dari luar negeri. Menurut mereka, langkah tersebut menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia yang patut diapresiasi.
"Triliunan rupiah ditolak demi mempertahankan hak paten untuk Indonesia. Nasionalisme seperti ini yang harus dihargai," komentar seorang pengguna.
Baca Juga: Polsek Kualuh Hulu Ringkus Pengedar Sabu di Labura, Barang Haram Disembunyikan dalam Topi
Namun, ada pula netizen yang berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar kepada para peneliti dan inovator dalam negeri agar karya-karya strategis tidak perlu berjuang sendirian.
"Kisah ini harus menjadi pelajaran. Jangan sampai inovator bangsa baru dihargai setelah diakui negara lain," tulis seorang warganet.
Hingga kini, kisah Ali Zum Mashar terus menjadi inspirasi bagi banyak orang. Perjalanan panjangnya menunjukkan bahwa keyakinan terhadap ilmu pengetahuan dan semangat pantang menyerah dapat menghasilkan karya yang membawa manfaat besar, bahkan hingga mendapat pengakuan dunia.(lin)
Editor : Redaksi