522 Anak dan Pelajar di Sidoarjo Hidup dengan HIV, Edukasi dan Perlindungan Anak Jadi Kunci Pencegahan

Redaksi • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi.Hingga 1 Juli 2026 terdapat sebanyak 522 anak dan remaja usia sekolah di Sidoarjo yang hidup dengan HIV.(Instagram @rumpi_gosip)
Ilustrasi.Hingga 1 Juli 2026 terdapat sebanyak 522 anak dan remaja usia sekolah di Sidoarjo yang hidup dengan HIV.(Instagram @rumpi_gosip)

 

sumutpos.jawapos.com - Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini menjadi perhatian serius setelah penularannya mulai ditemukan pada kelompok usia anak dan remaja sekolah. Tidak hanya menyerang orang dewasa, virus HIV juga telah menjangkiti ratusan anak dan pelajar yang masih berada di bangku pendidikan.

Melansir Instagram @rumpi_gosip, Jumat (24/7/2026), berdasarkan catatan Delta Crisis Center (DCC), hingga 1 Juli 2026 terdapat sebanyak 522 anak dan remaja usia sekolah di Sidoarjo yang hidup dengan HIV. Angka tersebut merupakan bagian dari total 7.129 Orang dengan HIV (ODHIV) yang tercatat di wilayah tersebut.

Direktur Program Yayasan DCC, Ferry Efendi, SH., MH., menyampaikan bahwa kasus HIV pada kelompok usia sekolah membutuhkan perhatian bersama, terutama dalam aspek pencegahan, edukasi, serta perlindungan agar anak tidak mengalami stigma sosial.

Baca Juga: Honor Belum Dibayarkan Sejak 2022, Postingan Inul Daratista Curi Perhatian

“Jumlah anak dan remaja usia sekolah di Sidoarjo hingga 1 Juli 2026 yang terpapar HIV mencapai 522 ODHIV. Rinciannya, sekitar 13 anak usia PAUD/TK, 44 pelajar SD hingga SMP sederajat, serta 465 pelajar SMA sederajat hingga mahasiswa,” ujar Ferry.

Menurut Ferry, terdapat berbagai faktor yang menyebabkan anak dan remaja dapat terpapar HIV. Pada sebagian anak, penularan dapat terjadi dari ibu yang positif HIV selama masa kehamilan, proses persalinan, maupun menyusui.

Sementara pada kelompok remaja, risiko penularan juga dapat dipengaruhi oleh perilaku berisiko, termasuk penggunaan jarum suntik narkoba serta hubungan seksual yang tidak aman.

Kondisi ini mendorong berbagai pihak, mulai dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), fasilitas kesehatan, hingga organisasi masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan HIV di lingkungan pendidikan.

Baca Juga: Arsitek dan Konsultan Pengawas Kompak Sebut Proyek Waterfront City Samosir Tuntas, Tim PH Apresiasi Hakim

Selain meningkatkan pemahaman mengenai HIV/AIDS, edukasi juga diperlukan untuk menghilangkan stigma terhadap anak yang hidup dengan HIV. Sebab, masih banyak masyarakat yang keliru memahami cara penularan virus tersebut.

Lilik dari pihak terkait menegaskan bahwa keluarga memiliki peran penting sebagai benteng utama dalam melindungi anak dari berbagai risiko yang dapat menyebabkan penularan HIV.

“Keluarga menjadi garda terdepan dalam mengawasi dan membimbing anak agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas maupun perilaku berisiko lainnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar anak dengan HIV tidak dikucilkan dari lingkungan sosial maupun sekolah. Perlindungan terhadap identitas dan hak anak harus tetap menjadi perhatian.

Baca Juga: Wesly Silalahi: Hak Anak Harus Dipenuhi, Masa Depan Bangsa Ditentukan dari Cara Kita Memperlakukan Mereka

“Anak tersebut tidak dikucilkan. Identitasnya juga dilindungi. Kami telah memberikan edukasi kepada lingkungan sekolah bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan atau interaksi sosial sehari-hari,” pungkas Lilik.

Kasus HIV pada anak dan remaja menjadi pengingat bahwa pencegahan tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat. 

Edukasi sejak dini menjadi salah satu langkah penting agar generasi muda memiliki pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS sekaligus mampu menghindari perilaku berisiko.(lin)

Editor : Redaksi
HIV Sidoarjo perlindungan anak kesehatan anak edukasi kesehatan aids