
JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com- Arah pergerakan rupiah kembali diuji. Di tengah lanskap global yang belum stabil, mata uang domestik diproyeksikan masih berada dalam tekanan, bahkan berpotensi menembus level psikologis Rp17.550 per dolar AS dalam waktu dekat.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan dolar AS menjadi faktor dominan. Indeks dolar yang bergerak di kisaran support 97 hingga resistance 102 membuka ruang apresiasi lanjutan, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Selama dolar AS masih menguat, tekanan terhadap rupiah sulit dihindari,” ujarnya.
Tekanan itu diperkuat oleh lonjakan harga energi global. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate diperkirakan bergerak di rentang USD 92 hingga USD 114 per barel. Kenaikan ini bukan sekadar angka, melainkan beban tambahan bagi neraca perdagangan—memicu peningkatan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.
Di balik dinamika pasar, faktor geopolitik memainkan peran yang tak kalah besar. Ketegangan di Timur Tengah, yang belum menunjukkan tanda mereda, terus menjadi sumber ketidakpastian. Bahkan, potensi eskalasi masih terbuka, seiring wacana kebijakan dari Presiden AS Donald Trump terkait anggaran militer.
Jika konflik meluas, dampaknya akan berlapis: harga energi terdorong naik, inflasi global meningkat, dan bank sentral cenderung mempertahankan—bahkan menaikkan—suku bunga. Kombinasi ini pada akhirnya memperkuat dolar AS dan mempersempit ruang gerak rupiah.
Di sisi lain, komoditas emas bergerak dalam pola yang lebih dinamis. Dalam jangka pendek, harga berpotensi terkoreksi. Namun, dalam horizon menengah hingga panjang, emas tetap menjadi aset lindung nilai yang diminati di tengah risiko global. Proyeksi bahkan menyebut harga dapat menyentuh USD 5.400 per troy ounce, dengan logam mulia domestik di kisaran Rp3,3 juta per gram.
Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia menyiapkan respons berlapis. Gubernur Perry Warjiyo menegaskan stabilisasi nilai tukar menjadi prioritas utama. Salah satu langkah yang ditempuh adalah penyesuaian struktur suku bunga pasar, termasuk peningkatan imbal hasil instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Stabilitas rupiah penting agar tekanan eksternal tidak menjalar ke inflasi dan mengganggu ekonomi domestik,” jelasnya.


