Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Terus Tertekan, Intervensi BI Belum Balikkan Arah Pasar

J
Penulis: Johan Panjaitan❯
Seorang pegawai bank menunjukkan mata uang Dolar dan Rupiah. (arikamedia)
Seorang pegawai bank menunjukkan mata uang Dolar dan Rupiah. (arikamedia)

Advertisement

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Kamis (14/5), mata uang Garuda melemah 42 poin dan bergerak di level Rp17.517 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga siang hari.

Pelemahan tersebut memperlihatkan bahwa intervensi yang dilakukan Bank Indonesia sejauh ini belum cukup kuat untuk membalikkan arah tekanan terhadap rupiah yang terus dibayangi kombinasi persoalan global dan domestik.

Advertisement

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut dia, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz, membuat investor global kembali memburu dolar AS sebagai aset aman.

“Ketegangan di Timur Tengah membuat pasar kembali mencari perlindungan ke dolar AS. Situasi ini otomatis menekan rupiah,” ujarnya.

Advertisement

Memanasnya hubungan Iran dan sekutu AS disebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi perang berkepanjangan yang dapat mengganggu perdagangan global dan distribusi energi dunia.

Apalagi, Amerika Serikat dikabarkan mulai menyiapkan tambahan anggaran perang, sementara Iran juga memperlihatkan kesiapan militernya melalui latihan perang berskala besar. Situasi itu dinilai meningkatkan sentimen risk off di pasar keuangan internasional.

“Kalau konflik meluas, dampaknya bukan hanya ke harga minyak, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi global dan nilai tukar negara berkembang,” kata Ibrahim.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Ibrahim menilai polemik terkait data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 ikut memengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi fundamental ekonomi nasional.

Ia menyoroti kritik sejumlah akademisi yang mempertanyakan apakah angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis benar-benar mencerminkan kondisi riil masyarakat.

Advertisement

Artikel Terkait

Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.000, Subsidi BBM Membengkak di Tengah Tekanan Global

Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.000, Subsidi BBM Membengkak di Tengah Tekanan Global

Rupiah tertekan menuju Rp18.000 per dolar AS, subsidi BBM membengkak, sementara BI dan OJK berupaya menjaga stabilitas pasar.

Rupiah Tertekan, BI Perketat Pembelian Dolar AS

Rupiah Tertekan, BI Perketat Pembelian Dolar AS

Rupiah melemah ke Rp17.424 per dolar AS, mendorong BI memperketat pembelian dolar dan menyiapkan langkah stabilisasi pasar valuta asing.

Kejagung Didesak Segera Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Cegah Dugaan Intervensi Penyidikan

Kejagung Didesak Segera Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Cegah Dugaan Intervensi Penyidikan

Kejagung didesak segera menahan eks Jampidsus Febrie Adriansyah guna mencegah dugaan intervensi dan menjaga independensi penyidikan kasus ko

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer