
JAKARTA, SUMUT POS— Tekanan terhadap rupiah diprediksi belum mereda dalam waktu dekat. Bahkan, Center of Economics and Law Studies (Celios) memproyeksikan kurs rupiah berpotensi menyentuh level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Juni 2026 apabila pemerintah gagal memperbaiki fundamental ekonomi domestik.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menegaskan, pelemahan nilai tukar yang terjadi saat ini tidak lagi didominasi oleh guncangan eksternal (external shock), melainkan telah bergeser ke arah persoalan struktural di dalam negeri.
Sifat pelemahan yang persisten ini menjadi indikator kuat adanya keraguan pasar terhadap manajemen fiskal dan tata kelola ekonomi nasional.
“Akhir Juni, rupiah Rp20.000 itu tidak terelakkan. Proyeksi yang memang masih sangat moderat itu Rp20.000,” ujar Bhima di Jakarta, kemarin (17/5).
Menurut analisis Celios, salah satu pemicu utama merosotnya kepercayaan investor adalah ketidakpastian seputar arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dinilai terlalu ekspansif dan kurang realistis. Selain itu, belum dipublikasikannya laporan keuangan Badan Pengelola Investasi Danantara turut memperlebar ruang spekulasi negatif di kalangan pelaku pasar modal dan valuta asing.
Bhima mengkritik sikap otoritas yang terkesan mengabaikan realitas di lapangan melalui narasi-narasi positif yang tidak sinkron dengan kondisi riil. “Pemerintah terkesan denial, seolah-olah uangnya ada. Selalu meninabobokan dan membuat narasi positif. Padahal situasinya sekarang sebenarnya sudah penuh tekanan,” katanya secara terbuka.
Dampak Sistemik dan Desakan Reshuffle Kabinet
Tekanan terhadap mata uang nasional bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan memiliki efek rambatan (spillover effect) yang nyata terhadap struktur sosial-ekonomi masyarakat. Depresiasi yang terlalu dalam dipastikan bakal mendongkrak biaya produksi sektor industri akibat ketergantungan pada bahan baku impor (imported inflation). Kondisi ini, jika dibiarkan, berisiko memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, kenaikan ongkos transportasi, hingga lonjakan biaya hidup masyarakat urban.
Memburuknya sentimen juga diperparah oleh berkembangnya isu mengenai potensi keluarnya Indonesia dari sejumlah indeks pasar saham global terkemuka, seperti Financial Times Stock Exchange (FTSE) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menanggapi situasi darurat ini, Celios mendesak Presiden untuk segera mengambil langkah politik-ekonomi yang radikal demi menyelamatkan stabilitas makroekonomi.



