Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Konsumsi Pertalite Diprediksi Melonjak

J
Penulis: Juli Rambe❯
Pengendara sepeda motor dan roda empat antrean panjang untuk mengisi BBM pertalite di SPBU 14212296, Jalan Datuk Lima Puluh, Desa Pulau Sejuk, Kecamatan Datuk Lima Puluh, Selasa (2/12)
Pengendara sepeda motor dan roda empat antrean panjang untuk mengisi BBM pertalite di SPBU 14212296, Jalan Datuk Lima Puluh, Desa Pulau Sejuk, Kecamatan Datuk Lima Puluh, Selasa (2/12)

Advertisement

 

SUMUT POS- Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter berpotensi mendorong perpindahan konsumsi masyarakat ke Pertalite. Dampaknya tidak hanya mengubah pola konsumsi BBM, tetapi juga menambah beban kompensasi pemerintah.

PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Dalam penyesuaian tersebut, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara Pertamax Green (RON 95) meningkat dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Advertisement

Peneliti Ekonomi sekaligus Strategic Research Manager CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, selisih harga Pertamax dan Pertalite kini mencapai sekitar Rp 6.250 per liter. Kesenjangan harga yang lebar itu menciptakan insentif kuat bagi konsumen untuk beralih ke BBM bersubsidi.

"Kenaikan harga Pertamax memang tidak menimbulkan gaung besar. Namun, dengan selisih harga sekitar Rp 6.250 per liter, dorongan bagi konsumen untuk beralih ke BBM subsidi menjadi sangat kuat," ujarnya kepada Jawa Pos, kemarin (10/6).

Advertisement

Menurut Yusuf, fenomena tersebut dikenal sebagai trading-down effect, yakni perpindahan konsumen ke produk yang lebih murah untuk menekan pengeluaran. Gejalanya mulai terlihat dari meningkatnya antrean kendaraan di jalur Pertalite dan berkurangnya kepadatan di jalur Pertamax.

Jika selisih harga bertahan dalam beberapa bulan ke depan, migrasi konsumen diperkirakan semakin besar. Dalam skenario moderat, konsumsi Pertalite diproyeksikan naik sekitar 7 persen. Sementara dalam skenario berat, kenaikannya bisa mencapai 12 persen.

Peningkatan konsumsi Pertalite akan berdampak langsung pada beban fiskal pemerintah. Dengan asumsi kompensasi sekitar Rp 5.400 per liter, tambahan beban negara diperkirakan mencapai Rp4 triliun hingga Rp17 triliun.

Selain sisi fiskal, ketersediaan pasokan Pertalite berpotensi tertekan apabila perpindahan konsumen berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Karena itu, pengawasan distribusi dan pembatasan pembelian menjadi semakin penting," tuturnya.

Dari sisi inflasi, dampak langsung kenaikan Pertamax diperkirakan terbatas karena mayoritas masyarakat masih menggunakan Pertalite dan Biosolar yang harganya tidak berubah. Namun, kenaikan biaya transportasi dan logistik pengguna BBM nonsubsidi tetap berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

Advertisement

Artikel Terkait

Harga Pertamax Tembus Rp 16.250, Warga Padang Lawas Beralih ke Pertalite

Harga Pertamax Tembus Rp 16.250, Warga Padang Lawas Beralih ke Pertalite

Harga Pertamax naik Rp 16.250, warga Padang Lawas beralih ke Pertalite hingga memicu antrean panjang di SPBU BBM subsidi.

Pemkab Nias Selatan Minta Tambahan 2.500 MT LPG, Desak Pertamina Urai Antrean BBM

Pemkab Nias Selatan Minta Tambahan 2.500 MT LPG, Desak Pertamina Urai Antrean BBM

Pemkab Nias Selatan mengusulkan tambahan kuota LPG 3 kg dan mendesak Pertamina mengatasi antrean BBM di Teluk Dalam.

BPH Migas Kawal Normalisasi SPBU di Binjai-Medan, Langkah Cepat Pertamina Berhasil Urai Antrean Kendaraan

BPH Migas Kawal Normalisasi SPBU di Binjai-Medan, Langkah Cepat Pertamina Berhasil Urai Antrean Kendaraan

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut)

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer