
Dalam cerita turun-temurun di berbagai daerah, daun kelor kerap dikaitkan dengan penangkal gangguan makhluk halus. Sebagian orang menanamnya di halaman rumah, sebagian lagi memetiknya untuk sayur, sementara tak sedikit yang menganggapnya sekadar tanaman liar yang tumbuh tanpa arti.
Tak banyak yang membayangkan, daun yang selama ini lebih akrab dengan mitos itu kini menjadi bagian dari rantai perdagangan global. Dari sebuah rumah produksi di Kota Medan, daun-daun kelor yang dahulu hanya dikenal sebagai pelengkap dapur dan cerita rakyat, kini diproses dengan standar mutu, dikemas secara higienis, lalu dikirim melintasi batas negara.
Di tangan PT Keloria Moringa Jaya, kelor tak lagi sekadar tanaman yang lekat dengan kepercayaan masyarakat. Melalui inovasi dan pemanfaatan platform digital, ia menjelma menjadi produk ekspor bernilai tinggi yang membuka pasar internasional sekaligus menghadirkan wajah baru ekonomi Indonesia dari akar yang paling sederhana.
Suara mesin pengemas terdengar bersahutan di sebuah rumah produksi sederhana di Jalan M Basir, Gang Keluarga, Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kota Medan. Namun, sebelum berubah menjadi teh, kapsul, atau tepung, setiap helai daun kelor harus melewati serangkaian proses yang panjang dan teliti.
Daun segar terlebih dahulu dicuci hingga bersih, kemudian dikeringkan menggunakan oven bersuhu rendah, tidak lebih dari 40 derajat celsius, agar warna hijau alami dan kandungan gizinya tetap terjaga. Setelah itu, daun digiling hingga menjadi tepung halus yang siap diolah menjadi berbagai produk. Seluruh proses dilakukan berdasarkan pesanan.
Di atas meja kerja, tumpukan teh celup, kapsul, tepung, minyak biji kelor hingga aneka rempah telah tersusun rapi menunggu giliran masuk ke dalam kardus ekspor. Beberapa pekerja memeriksa satu per satu kemasan agar tak ada yang cacat. Aroma daun kelor kering bercampur jahe merah memenuhi ruangan.
Di tengah aktivitas itu, seorang perempuan berkacamata terlihat sibuk memeriksa dokumen pengiriman. Sesekali ia menghitung ulang jumlah pesanan, lalu memastikan setiap label telah sesuai dengan standar negara tujuan.
Dialah Syahrani Devi, SP, MIKom, pendiri PT Keloria Moringa Jaya. “Seluruh proses ini dilakukan berdasarkan pesanan, termasuk yang mau diekspor. Saya tidak mau menyimpan stok terlalu banyak karena ingin menjaga kesegaran produk,” ujar Syahrani Devi kepada Sumut Pos di kediamannya, Rabu (12/8/2026).
Namun, di balik kesibukannya mengurus pesanan dan menembus pasar internasional, tersimpan kisah perjuangan yang nyaris membuatnya menyerah pada hidup. Jauh sebelum nama kelor membawanya ke pasar ekspor, daun itu justru hadir dalam hidupnya ketika tubuhnya terbaring lemah.



