Xi Jinping dan Putin Bertemu di Beijing, Bahas Energi hingga Ketegangan Selat Taiwan

BEIJING, Sumutpos.jawapos.com-Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan kembali menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing pada 19–20 Mei 2026. Agenda tersebut diperkirakan akan difokuskan pada penguatan kerja sama strategis kedua negara, terutama di sektor energi dan dinamika geopolitik global yang terus memanas.
Pertemuan dua pemimpin negara itu menjadi perhatian dunia karena berlangsung hanya beberapa hari setelah Xi Jinping menerima kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Beijing. Dalam waktu berdekatan, Tiongkok kini memainkan peran sentral dalam percaturan politik global di tengah rivalitas yang semakin tajam antara Washington, Moskow, dan Beijing.
Media internasional The Guardian melaporkan, Xi dan Putin sebelumnya telah saling bertukar surat ucapan menjelang pertemuan tersebut. Xi menegaskan hubungan Rusia dan Tiongkok terus berkembang semakin erat selama lebih dari tiga dekade terakhir.
Hubungan strategis kedua negara memang semakin kuat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Di tengah gelombang sanksi Barat terhadap Moskow, Tiongkok menjadi salah satu mitra ekonomi utama yang membantu menopang stabilitas ekonomi Rusia, khususnya melalui kerja sama perdagangan energi.
Energi Jadi Fokus Utama
Sektor energi diperkirakan menjadi agenda paling krusial dalam pembicaraan Xi dan Putin. Dalam beberapa tahun terakhir, perdagangan minyak dan gas antara kedua negara meningkat signifikan.
Data Centre for Research on Energy and Clean Air mencatat Tiongkok telah membeli bahan bakar fosil Rusia senilai lebih dari USD367 miliar sejak perang Ukraina pecah.
Analis senior Atlantic Council, Joseph Webster, menilai Beijing kini berupaya memperkuat ketahanan energi nasional melalui pasokan dari Rusia di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.
“Beijing ingin memperkuat pasokan energi dari Rusia guna mengantisipasi ketidakpastian geopolitik, termasuk potensi konflik di Selat Taiwan,” ujarnya.
Selain menjaga stabilitas energi, Rusia juga terus mendorong percepatan proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang selama ini menjadi ambisi besar Moskow.
Proyek tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas ekspor gas Rusia ke Tiongkok hingga mencapai 50 miliar meter kubik per tahun dan diyakini menjadi salah satu jalur strategis baru bagi ekonomi Rusia setelah pasar Eropa mulai berkurang akibat sanksi Barat.


