Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tato Keyboard Jadi Jembatan Komunikasi Ibu dan Anak Autis

R
Penulis: Redaksi❯
Jessica Fletcher, ibu asal Kanada, membuat tato bergambar keyboard komputer di tangannya. (Instagram @cretivox)
Jessica Fletcher, ibu asal Kanada, membuat tato bergambar keyboard komputer di tangannya. (Instagram @cretivox)

Advertisement

 

sumutpos.jawapos.com - Sebuah tato sederhana di lengan bawah menjadi simbol kasih sayang sekaligus jembatan komunikasi antara seorang ibu dan anaknya. Jessica Fletcher, ibu asal Kanada, membuat tato bergambar keyboard komputer agar putranya, Hunter (11), yang memiliki autisme dan tidak dapat berbicara secara verbal, tetap bisa menyampaikan keinginannya kapan pun.

Melansir Instagram @cretivox, Selasa (25/8/2026), ide itu muncul dari sebuah kejadian kecil namun membekas. Saat sedang berada di restoran, perangkat Augmentative and Alternative Communication (AAC) milik Hunter tiba-tiba kehabisan baterai. Perangkat tersebut biasanya membantu Hunter berkomunikasi melalui teknologi.

Advertisement

Dalam kondisi tanpa alat bantu, Hunter kemudian mengambil kertas dan menggambar keyboard yang ia ingat. Dengan jarinya, ia mulai “mengetik” pesan untuk menyampaikan apa yang ingin dikatakannya. Momen tersebut membuat Jessica sadar bahwa putranya membutuhkan cara komunikasi alternatif yang tidak bergantung sepenuhnya pada perangkat elektronik.

Tato yang dibuat Jessica pun dirancang menyerupai papan komunikasi. Di dalamnya terdapat susunan huruf alfabet, tombol “Yes” dan “No”, simbol ekspresi wajah senang dan sedih, hingga tulisan “I love you”.

Advertisement

Saat pertama kali melihat tato tersebut, Hunter langsung merespons. Ia meraih lengan ibunya dan menggunakan jarinya untuk mengetik satu kata yang penuh makna: “Mama”. Momen haru itu kemudian direkam dan viral di media sosial, ditonton lebih dari 100 juta kali.

Bagi Jessica, tato tersebut bukan sekadar gambar permanen di kulit, melainkan bentuk dukungan agar anaknya memiliki ruang untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya.

“Ketika kita menghilangkan hambatan komunikasi, kita memberi kesempatan bagi mereka yang tidak bisa bicara untuk menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya,” ujar Jessica.(lin)

Advertisement

Artikel Terkait

Rompi Pintar UB Bantu Redakan Tantrum Anak Autisme dengan Teknologi AI

Rompi Pintar UB Bantu Redakan Tantrum Anak Autisme dengan Teknologi AI

Mahasiswa UB menciptakan ADAPT-V, rompi pintar berbasis AI dan IoT untuk membantu mendeteksi serta meredakan tantrum anak dengan autisme.

Dari Sopir Taksi Online Beralih Jadi Pengantar Anjing, Theo Raup Peluang Baru

Dari Sopir Taksi Online Beralih Jadi Pengantar Anjing, Theo Raup Peluang Baru

Theo Suhandoko meninggalkan pekerjaan sopir taksi online dan sukses mengembangkan jasa taksi anjing dengan omzet hingga Rp1 juta per hari.

Cong Fei, Sosok Dermawan Tiongkok yang Mengabdikan Hidupnya untuk Anak-Anak Kurang Mampu

Cong Fei, Sosok Dermawan Tiongkok yang Mengabdikan Hidupnya untuk Anak-Anak Kurang Mampu

Cong Fei mengorbankan hartanya demi pendidikan anak miskin. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa ketulusan tak selalu dibalas setimpal.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer