Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Iran Ubah Strategi Hadapi Israel dan Amerika Serikat

Juli Rambe • Kamis, 5 Maret 2026 | 03:00 WIB

Lokasi yang diklaim sebagai tempat serangan mematikan Israel yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, provinsi Hormozgan di selatan Iran. (Screengrab/IRIB TV via AFP)
Lokasi yang diklaim sebagai tempat serangan mematikan Israel yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, provinsi Hormozgan di selatan Iran. (Screengrab/IRIB TV via AFP)

 

SUMUT POS- Iran mengubah strateginya dalam memghadapi perang menghadapi Israel dan Amerika Serikat. Sejak Senin (2/3/2026), Iran telah mengaktifkan 'Decentralize Mosaic Defence', sebuah doktrin perang gerilya yang dilakukan secara serentak di seluruh wilayahnya. 

Strategi baru ini telah merestrukturisasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi 31 unit operasional otonom: satu unit di Teheran dan 30 unit lainnya tersebar di bawah komando tingkat provinsi. Setiap komandan unit diberikan kebebasan penuh untuk mengambil keputusan perang tanpa persetujuan pusat di Teheran. 

Meskipun Teheran belum mengungkapkan mekanisme operasional secara rinci, sejumlah tokoh senior telah mengindikasikan, restrukturisasi itu untuk mencegah kelumpuhan sistemik jika terjadi gangguan komunikasi atau upaya pemecatan pemimpin.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, Iran telah lama mempelajari bagaimana bertempur dengan Amerika Serikat dan sekutunya. "Pengeboman di Ibu Kota kami tidak berdampak pada kemampuan kami untuk berperang. Decentralized Mosaic Defence memungkinkan kami untuk memutuskan kapan, dan bagaimana perang akan berakhir," tulisnya di X.

Melalui platform yang sama, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani juga menegaskan kesiapan pasukannya untuk perang panjang. "Iran, tidak seperti Amerika Serikat, (kami) telah mempersiapkan diri untuk perang yang panjang," tulis Larijani.

Dilansir Times Now, IRGC yang terbagi menjadi 31 unit mandiri masing-masing akan bertindak seperti potongan puzzle. Setiap komandan mendapatkan kekuatan taktis penuh. Menembakkan rudal, meluncurkan drone, dan serangan gerilya akan menjadi keputusan mereka tanpa perlu menunggu lampu hijau. 

Seperti perang gerilya yang dikenal luas, pegunungan terjal dan gurun akan berubah menjadi zona penyerangan. Pertahanan berlapis itu diyakini akan melemahkan penjajah secara perlahan.

Perubahan strategi ini penting bagi IRGC yang tengah menjadi target besar agresor AS-zionis. Jika sebelumnya semua komando disalurkan melalui Teheran, maka satu serangan besar bisa melumpuhkan seluruh pasukan.

Dengan cara baru ini, setiap unit bisa terus bertempur sendiri-sendiri. Cara itu telah diuji dalam latihan 'Smart Control' pada Februari lalu, dan kini akan diterapkan di tengah perang nyata yang bisa meningkatkan pertahanan dengan pesat.

Tujuan strategi ini adalah melelahkan penyerang. Manfaatkan medan untuk penyergapan, dan menjadikan invasi ke Iran sebagai mimpi buruk. Sejarah mencatat, bagaimana jebakan memainkan peran penting di perang Vietnam atau Afghanistan. 

Pasukan darat, angkatan laut dan udara IRGC akan terlibat secara bersamaan. Setiap provinsi menjalankan peran mereka. Walaupun Teheran diserang, yang lain akan meningkatkan kekuatan. Araghchi mengatakan, hal itu menjadi kunci kendali akhir Iran.

Tersebarnya unit IRGC menandakan serangan mendadak bisa terjadi di mana saja. Titik-titik rawan semakin menyempit. Aliran minyak terhambat. AS-Israel akan menghadapi serangan kecil yang tak berujung. Tidak ada kemenangan cepat. Peluang eskalasi meningkat tajam. Namun, dunia sedang mengawasi, seberapa lama gurita pertahanan ini akan mengacaukan strategi AS-Israel. (bbs/ram)

Editor : Juli Rambe
#Iran ubah strategi #Strategi perang iran vs amerika dan israel #Strategi perang iran