TEHERAN, Sumutpos.jawapos.com – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus meningkat. Washington dilaporkan menyiapkan tambahan pasukan serta kapal perang ke kawasan Timur Tengah menyusul eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.
Dua pejabat Amerika Serikat yang dikutip CBS News menyebutkan bahwa ribuan marinir dan armada kapal perang tambahan akan segera dikerahkan. Armada tersebut akan dipimpin oleh kapal serbu amfibi USS Tripoli yang saat ini berbasis di Jepang.
Kelompok tempur yang dipimpin kapal tersebut biasanya terdiri atas sekitar 5.000 pelaut dan marinir yang ditempatkan di beberapa kapal perang pendukung.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa Ditutup Israel, Jemaah Palestina Terpaksa Salat di Jalanan Saat Ramadan
Langkah militer ini diambil setelah sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah menjadi sasaran serangan rudal Iran. Selain itu, militer Iran dilaporkan menebar ranjau laut di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran serius terhadap jalur pelayaran internasional.
Beberapa kapal yang nekat melintasi perairan tersebut dilaporkan mengalami ledakan. Kondisi ini mulai mengganggu jalur distribusi energi global sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Presiden Donald Trump juga memberi sinyal bahwa Washington akan memperkuat pengamanan di Selat Hormuz. Saat ditanya mengenai rencana pengawalan kapal tanker minyak oleh Angkatan Laut AS, Trump menjawab singkat, “Itu akan segera terjadi.”
Laporan awal mengenai pengerahan tambahan pasukan Amerika Serikat sebelumnya disampaikan oleh The Wall Street Journal. Media tersebut menyebutkan bahwa permintaan bala bantuan diajukan oleh United States Central Command (CENTCOM) dan telah disetujui oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Jadwal Haji Tetap Jalan: Pemerintah Diminta Pastikan Keamanan Jemaah
Trump bahkan memperingatkan Iran akan “terpukul sangat keras” dalam beberapa hari ke depan, serta mengklaim bahwa konflik tersebut pada akhirnya akan berujung pada kemenangan Amerika Serikat.
Iran Bersumpah Tidak Mundur
Di pihak lain, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan negaranya tidak akan mundur menghadapi tekanan militer Barat.
Dalam pidato publik pertamanya setelah menggantikan mendiang Ali Khamenei, ia menegaskan bahwa Teheran akan tetap memblokade Selat Hormuz sebagai bentuk perlawanan strategis.
Melalui pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Mojtaba juga bersumpah akan “membalas darah” warga Iran yang tewas dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ia turut memperingatkan negara-negara di kawasan Timur Tengah agar tidak lagi menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat.
Hadiah USD 10 Juta untuk Informasi Pejabat Iran
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga USD 10 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai lokasi Mojtaba Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi Iran.
Baca Juga: Ijeck Angkat Isu Narkoba, Judi Online hingga Lapangan Kerja di Hadapan Menko Polkam
Program hadiah tersebut diumumkan oleh Rewards for Justice, sebuah program milik U.S. Department of State.
Dalam pernyataan resminya, hadiah tersebut berlaku untuk informasi mengenai sejumlah pemimpin Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang dituduh merencanakan berbagai operasi teror di sejumlah wilayah dunia.
Selain Mojtaba Khamenei, daftar tersebut juga mencakup Wakil Kepala Staf Kantor Pemimpin Tertinggi Ali Asghar Hejazi, penasihat senior Ali Larijani, Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni, serta Menteri Intelijen Esmail Khatib.
Iran Siapkan Balasan Keras
Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menegaskan bahwa negaranya akan memberikan balasan keras apabila Amerika Serikat atau Israel mencoba membunuh pemimpin tertinggi baru Iran.
Menurut Jalali, tindakan militer Iran saat ini merupakan respons atas kematian Ali Khamenei yang memicu kemarahan publik di negaranya.
“Kami menginginkan pembalasan darah untuk pemimpin kami. Rakyat marah dan menuntut balasan atas pertumpahan darah,” ujarnya kepada kantor berita RIA Novosti.
Tiongkok Perkuat Ambisi Teknologi Global
Di tengah memanasnya konflik geopolitik global, Tiongkok juga mempercepat strategi untuk memperkuat sektor teknologi dan industrinya.
Presiden Xi Jinping menyiapkan langkah jangka panjang guna menjadikan negaranya sebagai kekuatan teknologi utama dunia.
Dalam lima tahun ke depan, Beijing berencana mempercepat pengembangan teknologi strategis seperti kecerdasan buatan, robotika, teknologi kedirgantaraan hingga komputasi kuantum.
Menurut analis Eurasia Group, Dan Wang, strategi tersebut menunjukkan ambisi Tiongkok untuk tidak lagi sekadar mengejar ketertinggalan dari negara Barat.
“China ingin memimpin dalam berbagai teknologi, bukan hanya mengejar Barat,” ujarnya kepada CNN.
Pemerintah Tiongkok juga menargetkan peningkatan anggaran riset sains dan teknologi sekitar 10 persen per tahun serta pertumbuhan investasi penelitian minimal 7 persen setiap tahun.
Xi Jinping bahkan diperkirakan akan menjamu Presiden AS Donald Trump di Beijing pada akhir bulan ini untuk membahas kemungkinan perpanjangan gencatan perang dagang antara kedua negara.
Baca Juga: Manchester United vs Aston Villa: Setan Merah Siap Ulangi Luka Lama The Villans
Namun para analis menilai rivalitas ekonomi dan teknologi antara Washington dan Beijing akan tetap kuat dalam beberapa tahun mendatang.
Presiden Center for China and Globalization, Henry Huiyao Wang, menilai Tiongkok berupaya memposisikan diri sebagai penopang stabilitas ekonomi global di tengah ketidakpastian dunia.
“Di tengah dunia yang tidak pasti, Tiongkok ingin menjadi jangkar stabilitas global,” ujarnya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan