Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Waspada Makanan Ultra-Proses, Konsumsi Sejak Dini Disebut Tingkatkan Risiko Kanker

Redaksi • Rabu, 11 Februari 2026 | 08:00 WIB
ilustrasi anak makan makanan olahan (freepik.com)
ilustrasi anak makan makanan olahan (freepik.com)

sumutpos.jawapos.com – Konsumsi makanan ultra-proses dalam jangka panjang disebut dapat meningkatkan risiko kanker, terutama jika kebiasaan tersebut dimulai sejak usia anak-anak.

Melansir Instagram @lambegosiip, Selasa (10/2/2026), Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Aru Wisaksono Sudoyo, mengingatkan bahwa pola makan modern yang semakin didominasi makanan siap saji perlu menjadi perhatian serius masyarakat.

Menurutnya, makanan ultra-proses cenderung mengandung berbagai bahan tambahan yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus.

“Sekarang ada sosis siap makan. Siap-siap kanker 20 tahun lagi, terutama anak-anak,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya masyarakat untuk lebih kritis dalam membaca label kandungan nutrisi pada kemasan produk makanan. Jika daftar bahan dalam kemasan mengandung banyak istilah asing atau bahan pengawet, maka produk tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi termasuk dalam kategori ultra-processed food (UPF).

Secara umum dijelaskannya, makanan terbagi menjadi beberapa kategori, yakni makanan non-proses seperti sayur, buah, dan daging segar; makanan yang dimasak di rumah yang masih relatif aman; serta makanan ultra-proses yang diproduksi di pabrik sehingga bentuk dan kandungan alaminya telah berubah secara drastis.

Menurutnya, makanan ultra-proses sering kali tidak lagi mencerminkan bahan aslinya. “Kalau sudah jadi nugget, belum tentu ada ayamnya. Bentuknya sudah jauh dari aslinya,” katanya.

Produk daging olahan seperti sosis, nugget, dan kornet disebut umumnya mengandung nitrat, bahan pengawet, serta pewarna tertentu yang berisiko memicu kanker jika dikonsumsi berlebihan. Oleh karena itu, ia menyarankan agar masyarakat membatasi konsumsi produk tersebut, khususnya pada anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan.

Ditambahkannya, membiasakan pola makan sehat sejak dini menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko berbagai penyakit kronis di masa depan. Ia juga mendorong masyarakat untuk lebih memilih makanan segar serta mengolah makanan sendiri di rumah sebagai alternatif yang lebih sehat.

Pernyataan tersebut memicu beragam reaksi warganet di media sosial. Banyak yang mengaku mulai khawatir dengan kebiasaan mengonsumsi makanan instan sehari-hari.

“Anak sekarang memang susah lepas dari nugget sama sosis. Harus mulai dikurangi pelan-pelan,” tulis netizen

Baca Juga: Mulai Putaran Ketiga, PSMS Tegaskan Waspadai Semua Lawan

Komentar lain juga menyoroti pentingnya edukasi bagi orang tua. “Orang tua harus lebih selektif pilih makanan anak. Jangan karena praktis jadi kebiasaan,” tulis netizen lain.

Sebagian netizen juga mengingatkan bahwa makanan olahan sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan. “Sesekali mungkin masih oke, tapi kalau tiap hari jelas berisiko,” tulis netizen yang lainnya.

Ada pula yang mengajak masyarakat kembali ke pola makan tradisional. “Makanan rumahan tetap paling aman. Walaupun butuh waktu, tapi lebih sehat untuk keluarga,” timpal netizen lagi. (lin)

Editor : Redaksi
#kesehatan #makanan sehat #cegah kanker #ultra processed food #nutrisi anak