
JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih membayangi industri manufaktur memaksa pemerintah mencari strategi baru agar lulusan pendidikan vokasi tetap terserap dunia kerja. Di tengah melambatnya permintaan tenaga kerja di dalam negeri, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mengarahkan pasar kerja ke luar negeri dengan membidik kebutuhan tenaga terampil di berbagai negara, terutama kawasan Eropa Timur.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga tingkat penyerapan lulusan sekolah vokasi Kemenperin sekaligus menjawab tantangan perlambatan sektor manufaktur yang dipengaruhi kondisi ekonomi global.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Doddy Rahadi, mengatakan peluang kerja di pasar internasional kini menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Menurutnya, ketika industri manufaktur domestik belum sepenuhnya pulih, ekspansi ke pasar tenaga kerja global merupakan langkah yang tidak bisa ditunda.
"Kalau sektor jasa penyerapannya masih cukup besar. Sementara sektor manufaktur memang sedikit melemah karena kondisi pasar dunia. Tetapi kita tidak boleh berhenti," ujar Doddy usai pelepasan lulusan SMK-SMAK dan SMTI Tahun 2026 di Bogor, Kamis (16/7).
Kemenperin, lanjutnya, tengah memperluas kerja sama dengan sejumlah negara yang masih mengalami kekurangan tenaga kerja terampil. Untuk itu, pemerintah menyiapkan berbagai program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri di negara tujuan.
"Kami menyiapkan pelatihan untuk kebutuhan pasar di Belarus, Rusia, Slovakia, dan beberapa negara lainnya. Kami terus berkoordinasi dengan kementerian lain agar kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi," katanya.
Jepang Masih Jadi Tujuan Favorit
Selain membidik pasar Eropa Timur, Jepang tetap menjadi negara tujuan utama bagi lulusan sekolah vokasi Kemenperin. Melalui Politeknik ATI Makassar, setiap tahun sekitar 70 hingga 200 peserta mengikuti program magang di berbagai perusahaan manufaktur di Negeri Sakura.
"Masih didominasi Jepang. Ada juga yang ke Tiongkok, tetapi jumlahnya tidak sebanyak Jepang," ujar Doddy.
Ia menjelaskan, program magang tersebut bukan sekadar pengalaman kerja sementara. Banyak peserta yang kemudian direkrut menjadi karyawan tetap karena mampu memenuhi standar kompetensi perusahaan tempat mereka magang.



