SUMUTPOS.CO- Tutupnya pabrik tekstil, Sritex menjadi kabar sedih bagi 10 ribu buruhnya.
Padahal, pabrik ini bermula dari usaha kecil- kecilan ini hingga akhirnya menjadi pabrik raksasa, dan membuat seragam serta pakaian dari luar negeri.
Untuk diketahui, Lukminto menyerahkan kepemimpinan Sritex ke putra sulungnya, Iwan Setiawan Lukminto sejak 2007.
Berikut sejarah Sritex dirangkum dari berbagai sumber sebelum akhirnya dilanda pailit.
Awal Kerja Sama dengan NATO dan Merk Luar Negeri
Mantan Direktur Utama Sritex, Sri Sartono Basuki, pada 2014 lalu, kerja sama itu bermula ketika Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) meminta perusahaan tersebut membuat baju militer pada 1990.
Suatu waktu ABRI—kini Tentara Nasional Indonesia (TNI)—dan NATO saling tukar seragam militer layaknya tukar kostum pemain sepak bola. Setelah diuji dan dibandingkan dengan buatan Amerika Serikat alias AS, ternyata kualitas buatan Sritex asal Sukoharjo, Jawa Tengah.
“Lalu diuji, dibandingkan dengan AS dan ternyata lebih bagus. Waktu itu (PT Sritex) orientasinya masih fesyen,” kata Sartono.
Sejak kesepakatan pada 1994 itu, kualitas seragam militer yang diproduksi Sritex pun menyebar ke berbagai belahan dunia. Banyak negara memesan seragam militer dengan spesifikasi berbeda.
Mulai dari seragam tentara yang antipeluru, antiradiasi, antinyamuk, antiapi, antiair, dan sebagainya. Bahkan Sritex pernah mengembangkan seragam militer kamuflase dengan berubah warna sesuai dengan lingkungan alam.
“Baru tahap-tahapnya, belum sedetail itu (berubah warna), kita dikondisikan ke sana,” kata Sartono.
Hingga saat ini sebelum akhirnya dinyatakan pailit, Sritex menjadi produsen seragam militer untuk 35 negara. Negara-negara yang dipasok oleh Sritex antara lain Jerman, Inggris, Malaysia, Australia, Timor Leste, Uni Emirat Arab, Kuwait, Brunei Darussalam, Singapura, Amerika Serikat, Papua Nugini, Selandia Baru, Tunisia, Turki, dan anggota NATO.
Selain memproduksi seragam tentara, Sritex mengekspor benang dan kain ke 100 negara.
Dalam setahun, Sritex memproduksi 1,1 juta bal benang, 179,9 juta meter kain mentah, 240 juta yard kain berwarna, serta 30 juta potong pakaian jadi dan seragam. Sebagian besar barang ini dibuat di pabrik seluas 79 hektare di Sukoharjo.
Saat itu, Sritex juga mengerjakan pakaian dengan merek ternama seperti Uniqlo, Zara, JCPenney, New Yorker, Sears, serta jaringan Walmart.
Berawal dari Toko Kain
Sritex mulanya adalah toko kain bernama UD Sri Redjeki di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah tahun 1966. Usaha ini didirikan oleh sang Ayah, Muhammad Lukminto untuk memproduksi kain mentah dan bahan putihan di Solo.
Setahun kemudian, Lukminto membuka pabrik cetak pertama yang menghasilkan kain putih dan berwarna di Surakarta.
Pabrik kedua yakni pabrik tenun dibangun pada 1982.
Pabrik tekstil itu kemudian direlokasi ke Desa Jetis, Sukoharjo dengan nama PT Sri Rejeki Isman atau Sritex.
Pada 3 Maret 1992, pabrik Sritex diresmikan Presiden Soeharto bersama 275 pabrik aneka industri lainnya di Surakarta.
Setelah sukses di dalam negeri, Sritex mencoba menembus pasar Eropa pada 1992.
Mulai Rugi
Setelah dilanda pandemi Covid-19, angka penjualan perusahaan anjlok menjadi US$ 847,5 juta pada 2020. Di sisi lain, beban pokok penjualan naik dari US$ 1,05 miliar menjadi US$ 1,22 miliar. Akibatnya, Sritex mencatat kerugian untuk pertama kali sejak melantai di pasar modal.
Pada 2021, Sritex membukukan rugi bersih US$ 1,08 miliar atau sekitar Rp 15,4 triliun. Pada semester I 2024, kerugian menipis menjadi US$ 25,73 juta atau Rp 421 miliar.
Adapun kewajiban Sritex membengkak dari Rp 13,43 triliun pada 2019 menjadi Rp 26,2 triliun pada pertengahan 2024. (bbs/ram)
Editor : Juli Rambe