Sekolah Rakyat Kekurangan 90 Ribu Guru Agama, Kemenag Petakan Solusi agar Program Tetap Optimal

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Program Sekolah Rakyat (SR) yang digagas pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) terus dipersiapkan. Namun, di balik ambisi besar tersebut, pemerintah masih menghadapi tantangan serius, yakni kekurangan sekitar 90 ribu guru pendidikan agama.
Meski Sekolah Rakyat berada di bawah pengelolaan Kementerian Sosial (Kemensos), penyediaan tenaga pengajar agama menjadi tanggung jawab Kementerian Agama (Kemenag). Kondisi itu mendorong Kemenag mulai memetakan berbagai potensi persoalan agar kebutuhan guru dapat dipenuhi tanpa menghambat operasional sekolah.
Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, M. Munir, mengatakan Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang harus didukung dengan kesiapan sumber daya manusia, khususnya tenaga pendidik.
"Kami di Kemenag memetakan potensi persoalan dalam pengisian guru agama di Sekolah Rakyat," ujar Munir di Bogor, Sabtu (4/7).
Menurutnya, pemetaan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif agar pelaksanaan Sekolah Rakyat tetap berjalan optimal meskipun dihadapkan pada keterbatasan jumlah guru agama.
Munir menegaskan, pemenuhan kebutuhan guru tidak hanya berorientasi pada jumlah, tetapi juga kualitas. Guru agama yang ditempatkan di Sekolah Rakyat harus memiliki kompetensi keagamaan yang memadai sekaligus komitmen kebangsaan yang kuat.
"Kemampuan di bidang keagamaan dan wawasan kebangsaan sangat penting untuk membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia, disiplin, santun, serta memiliki semangat kebangsaan," katanya.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan tenaga pengajar. Berdasarkan data Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Kemenag masih kekurangan sekitar 90 ribu guru agama di berbagai jenjang pendidikan.
"Data Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) kami menunjukkan terdapat kekurangan sekitar 90 ribu guru," ungkap Munir.



