MILAN, Sumutpos.jawapos.com-Di saat reputasi sepak bola Italia terus diuji di panggung Eropa, Inter Milan kembali memanggul beban tradisi. Empat musim beruntun mereka menembus fase gugur Liga Champions UEFA, bahkan dua kali mencapai final pada 2022–2023 dan 2024–2025 meski berakhir sebagai runner-up. Kini, La Beneamata berada di tikungan tajam.
Kekalahan 1-3 dari kuda hitam Norwegia, FK Bodo/Glimt, pada leg pertama playoff membuat Inter wajib membalikkan keadaan di leg kedua di Stadio Giuseppe Meazza, dini hari nanti (03.00 WIB).
“Kans kami masih terbuka,” tegas allenatore Inter, Cristian Chivu, kepada Sky Sport Italia. Optimisme itu bukan basa-basi. Inter tahu betul, satu kegagalan saja bisa menjadi noda bagi koefisien dan harga diri Serie A.
Lebih dari Sekadar Lolos
Italia memang masih memiliki wakil lain seperti Juventus dan Atalanta BC. Namun dalam beberapa musim terakhir, Inter-lah yang paling konsisten menjaga marwah Negeri Pizza di Eropa. Mereka bukan sekadar peserta—mereka penantang serius.
Karena itu, duel kontra Bodo/Glimt bukan hanya soal agregat. Ini tentang menjaga kontinuitas, reputasi, dan aura kebesaran yang mulai mereka bangun kembali.
Senjata Rahasia Bernama Sepak Pojok
Jika ada satu aspek yang bisa jadi pembeda, itu adalah bola mati. Inter adalah raja sepak pojok di lima liga top Eropa musim ini—15 gol lahir dari situasi tendangan sudut.
Catatan itu melampaui produktivitas klub-klub besar seperti Arsenal (14 gol), Tottenham Hotspur (13 gol), hingga dua raksasa Bundesliga, Bayern Munchen dan Borussia Dortmund yang sama-sama mencetak 11 gol dari skema serupa.
Kekuatan itu terletak pada presisi kaki kiri Federico Dimarco. Umpannya tajam, melengkung, dan mematikan. Cristian Chivu tak ragu mengakui, situasi bola mati bisa menjadi jalan pintas menuju kebangkitan.
Contohnya sudah terlihat akhir pekan lalu saat melawan US Lecce. Bek tengah Manuel Akanji menyambar sepak pojok menjadi gol. “Tidak ada bedanya Serie A dan Liga Champions,” ujarnya kepada DAZN Italia. Mentalitas itulah yang ingin mereka bawa ke laga hidup-mati ini.
Ambisi Sejarah Sang Superlaget
Namun Bodo/Glimt bukan sekadar penggembira. Klub berjuluk Superlaget itu berdiri di ambang sejarah. Sejak 1996–1997, belum ada klub Norwegia yang menembus fase gugur Liga Champions. Kala itu, Rosenborg BK mencapai perempat final sebelum disingkirkan Juventus.
Pelatih kepala mereka, Kjetil Knutsen, disebut tak ingin para pemainnya terjebak romantisme sejarah. Fokus mereka sederhana: menulis bab baru.
Dengan agregat sementara di tangan, Bodo/Glimt akan datang tanpa beban. Justru Inter yang memikul tekanan—tekanan publik, tekanan tradisi, dan tekanan ekspektasi.
San Siro akan bergemuruh. Inter harus tampil bukan hanya dengan taktik, tetapi dengan karakter. Mereka punya kualitas, punya pengalaman, dan punya senjata bola mati yang terbukti efektif.
Namun sepak bola Eropa tak pernah memaafkan kelengahan.
Jika Inter bangkit, mereka bukan hanya lolos—mereka mengirim pesan bahwa Italia belum habis. Jika gagal, malam di Meazza akan dikenang sebagai salah satu episode paling pahit dalam perjalanan modern La Beneamata.
Kini, segalanya bergantung pada 90 menit yang menentukan.(jpg/han)
Prakiraan Pemain:
INTER MILAN (3-5-2): 1-Sommer (g); 31-Bisseck, 25-Akanji, 95-Bastoni; 11-Luis Henrique, 8-Sucic, 23-Barella (c), 7-Zielinski, 32-Dimarco; 9-Thuram, 94-Pio Esposito
Pelatih: Cristian Chivu
Jersey pemain: Biru-hitam
Jersey kiper: Hitam
FK BODO/GLIMT (4-3-3): 12-Haikin (g); 20-Sjovold, 4-Bjortuft, 6-Gundersen, 15-Bjorkan; 26-Evjen, 7-Berg (c), 19-Fet; 11-Blomberg, 9-Hogh, 10-Hauge
Pelatih: Kjetil Knutsen
Jersey pemain: Kuning
Jersey kiper: Oranye