Presiden RI Joko Widodo naik lori di Stasiun Kereta Api kota Binjai, Sumatera Utara, Rabu (2/3/2016). Kedatangan Presiden untuk peninjauan pembangunan reaktivasi jalan layang dan jalur kereta api trans Sumatera.
MEDAN, SUMUTPOS.CO - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dalam paparannya mengatakan, jalur kereta api Trans-Sumatera yang menghubungkan wilayah Medan-Aceh-Riau sepanjang 1.574,5 kilometer (Aceh 600 km, Sumut 411,5 km dan Riau 563 km) dijadwalkan selesai dan dioperasikan pada 2020 dan 2021.
Di Sumut, menurut Menhub, dari 411,5 km ada jalur yang sudah beroperasi mencapai 288,5 km, kemudian konstruksi dalam pelaksanaan 48,11 km, dan konstruksi dalam perencanaan 74,89 km. Menurut Jonan, masyarakat Sumut yang tadinya dinilai paling sulit dalam hal pembebasan lahan, justru mendukung dan terbuka dengan rencana pembangunan.
"Kami berusaha jika tanahnya tersedia dan mudah, maka akan cepat kami kerjakan. Dan nyatanya masyarakat Sumut paling mudah guna mewujudkan rencana ini. Aceh-Sumut-Riau punya potensi daerah yang siap dikonektifikasi," ungkap Jonan.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu Erry Nuradi sebelumnya, mengaku bangga dan bahagia atas ground breaking tersebut. Menurut Erry, jalan layang yang terwujud nantinya merupakan yang pertama di Sumut.
"Kebahagiaan kami bertambah karena sebelumnya presiden mengunjungi Danau Toba. Kita tahu karena kurang didukung infrastruktur pesona Danau Toba kurang terasa gaungnya. Sejumlah proyek pembangunan di Sumut yang sudah digroundbreaking pada 2015 lalu, tentu menjadi mimpi bagi 14 juta masyarakat Sumut," kata Erry.
Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Hermanto Dwiatmoko mengakui, dalam lawatan Presiden Jokowi ke Sumut kali ini, memiliki dua agenda yakni ground breaking jalur ganda layang Medan-Bandar Khalifah dan reaktivasi jalur Binjai-Besitang. Menurutnya pembangunan jalur rel ganda dan jalur layang itu untuk meningkatkan kelancaran jalur kereta api dari Medan menuju Bandara Kualanamu. Proyek pengerjaan jalur ganda dan jalur layang tersebut sudah dilakukan pada 2015 dan diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2017. Sedangkan reaktivasi tersebut pengoperasionalan kembali jalur rel dari Kota Binjai menuju Besitang, Kabupaten Langkat dengan total panjang 80 km.
Dari pengerjaan yang telah dilakukan, pihaknya sudah memasang rel sepanjang 50 km dalam program untuk memaksimalkan fungsi perkeretaapian di Sumatera Utara. Namun pihaknya mengakui jika rel yang dipasangkan tersebut belum terkoneksi seluruhnya karena ada jembatan yang belum terpasang. Untuk program jangka pendek, diharapkan jalur menuju Stabat, Langkat sudah dapat dioperasionalkan pada akhir 2016. Sedangkan pembangunan rel hingga Besitang yang merupakan daerah perbatasan dengan Provinsi Aceh diharapkan dapat diselesaikan pada 2017. "Jadi dari Besitang (Langkat) sampai Rantau Prapat (Kabupaten Labuhan Batu) bisa nyambung," katanya.
Di tempat yang sama, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I, Paul Ames Halomoan mengatakan, progres jalan tol Medan Kualanamu dengan panjang 17,8 km sudah mencapai 43 persen dengan pembebasan lahan 89 persen.
“Sementara untuk Medan-Tebing Tinggi panjang 44 km, progres pembebasan lahan 80 persen dan fisik 11 persen. Untuk tol Medan-Binjai panjang sekitar 16,8 km dengan pembebasan lahan 80 persen dan fisiknya 11 persen. Untuk fisiknya di segmen tiga itu progresnya sudah 30 persen, segmen dua memang baru 5 persen,” ujar Paul di stasiun KA Binjai, Rabu (2/3).
Lambatnya pembebasan lahan di segmen dua ini, lanjut Paul, disebabkan jalurnya masih banyak masuk ke Kota Medan, dan banyak lahan yang belum bisa dibebaskan. “Namun kita harapkan segmen dua ini bisa dioperasikan Desember 2016, mudah-mudahan kalau tanahnya tidak masalah tentu pembangunanya tidak masalah,” terang Paul.
Sejauh ini jelas Paul, kendalanya hanyalah lahan. Kalau untuk Kota Binjai pembebasan lahan untuk segmen dua itu tinggal sedikit lagi, hanya di Kota Medan yang memang masih terkendala. Sedangkan tol Medan-Kualanamu menurut Paul belum dapat dioperasikan pihaknya pada 2016 ini.
“Tapi sesuai target dari Pak Presiden tadi, pada pertengahan tahun 2017 itu harus selesai. Mudah-mudahanlah karena kuncinya adalah masalah tanah, kalau tanah selesai tentu pembangunan juga bisa jalan. Kalau untuk Medan-Tebing Tinggi segmen 3 itu bisa selesai tahun ini, dari Medistra kearah Lubukpakam kurang lebih 6 Km itu mudah-mudahan bisa kita selesaikan tahun ini,” terangnya.
Dia menambahkan, untuk pembebasan lahan jalan tol Trans Sumatera ini bisa dikatakan mencapai 80 persen. “Rata-ratanya 80 persen, tapi itu segmen 3 sekitar 90 persen, segmen 4 sekitar 100 persen, segmen 5 itu sekitar 90 persen, segmen 6 sekitar 90 persen dan segmen 7 yang di ujung Tebing Tinggi itu yang masih minim,” jelasnya.
Untuk mendorong percepatan pembangunan ini, Paul meminta terutama DPR agar dapat mendorong anggaran pembangunan jalan tol trans sumatera. “Harapan kita marilah ramai-ramai kita dorong, baik dari DPR juga masyarakat biar ada anggarannya. Saya optimis ini bisa segera diselesaikan apalagi pak presiden begitu perhatian, dan bupati nya juga cukup merespon,” jelas Paul.
Usai meresmikan ground breaking dan meninjau reaktivasi jalur KA Binjai-Besitang, rombongan kemudian bertolak ke Medan. Sesuai agenda, pada hari ini Jokowi akan bertolak ke Palembang, Sumatera Selatan. (prn/adz) Editor : Admin-1 Sumut Pos