Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indonesia Disebut Relatif Aman Jika Perang Dunia III Terjadi, Ini Alasannya

R
Penulis: Redaksi❯

Dampak perang nuklir tetap berpotensi memicu krisis global yang memengaruhi seluruh dunia. (Instagram @pandemictalks)
Dampak perang nuklir tetap berpotensi memicu krisis global yang memengaruhi seluruh dunia. (Instagram @pandemictalks)


Advertisement

sumutpos.jawapos.com - Isu mengenai potensi Perang Dunia III kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Salah satu analisis yang ramai dibagikan menyebut ada 10 negara yang dinilai relatif lebih aman jika konflik global besar benar-benar terjadi. Dalam daftar tersebut, nama Indonesia turut disebut.

Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (2/3/2026), pandangan ini merujuk pada analisis Profesor iklim dan sains atmosfer, Brian Toon, yang meneliti dampak perang nuklir terhadap iklim global dan ketahanan pangan dunia. Ia menilai beberapa negara memiliki peluang lebih besar untuk bertahan karena faktor geografis, netralitas politik, serta ketersediaan sumber daya alam.

Negara-negara yang kerap disebut relatif aman antara lain Selandia Baru, Swiss, Islandia, Indonesia, Afrika Selatan, Argentina, Bhutan, Chili, dan Fiji.

Advertisement

Secara geografis, Indonesia dinilai diuntungkan karena berada jauh dari pusat ketegangan geopolitik utama dunia. Selain itu, kebijakan politik luar negeri “bebas dan aktif” membuat Indonesia tidak secara langsung terikat pada blok kekuatan besar global.

Di kawasan Pasifik, New Zealand dan Fiji juga disebut memiliki peluang bertahan karena letaknya yang terisolasi serta populasi yang relatif kecil. Sementara itu, Switzerland dikenal dengan tradisi netralitasnya dalam konflik internasional.

Negara-negara seperti Iceland dan Argentina dianggap memiliki sumber daya alam dan produksi pangan yang cukup untuk menopang kebutuhan domestik dalam situasi krisis global. Hal serupa juga berlaku bagi South Africa, Bhutan, dan Chile yang dinilai memiliki kombinasi lokasi strategis dan kapasitas produksi pangan.

Advertisement

Namun demikian, “relatif aman” bukan berarti sepenuhnya bebas dampak. Brian Toon dalam berbagai kajiannya memperingatkan bahwa perang nuklir dapat memicu fenomena “musim dingin nuklir”, yakni kondisi ketika debu dan asap ledakan menghalangi sinar matahari, menurunkan suhu global, serta mengganggu produksi pangan secara masif.

Dampaknya bisa berupa gagal panen, kelaparan lintas negara, krisis ekonomi, hingga gangguan rantai pasok global. Artinya, meski tidak menjadi target langsung serangan, hampir semua negara tetap berisiko terdampak secara tidak langsung.

Karena itu, para ahli menekankan pentingnya diplomasi, kerja sama internasional, dan pencegahan konflik berskala besar. Dalam era saling ketergantungan global seperti saat ini, stabilitas dunia menjadi kepentingan bersama yang tak bisa diabaikan. (lin)

Advertisement

Artikel Terkait

Gaji Korea Selatan Dibandingkan Indonesia, Daya Beli Jadi Sorotan

Gaji Korea Selatan Dibandingkan Indonesia, Daya Beli Jadi Sorotan

Perbandingan gaji dan biaya hidup Indonesia-Korea Selatan viral. Daya beli, kesejahteraan pekerja, hingga kemampuan membeli rumah disorot.

Indonesia Jadi Negara dengan Rata-Rata Waktu Bangun Paling Pagi di Asia

Indonesia Jadi Negara dengan Rata-Rata Waktu Bangun Paling Pagi di Asia

Indonesia menjadi negara dengan rata-rata waktu bangun paling pagi di Asia, yakni pukul 06.55. Namun, bangun pagi bukan satu-satunya indikat

 Bawa Indonesia Menang 5-0 atas Singapura, Pemain Timnas Putri U-17 Asal Batu Bara Dijemput Polisi

Bawa Indonesia Menang 5-0 atas Singapura, Pemain Timnas Putri U-17 Asal Batu Bara Dijemput Polisi

Polsek Air Putih jemput dan kawal Fadila, pemain Timnas Putri U-17 asal Batu Bara, usai menang 5-0 atas Singapura.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer