Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

IHSG Masih Diuji Dilevel 6.200

Redaksi Sumutpos • Minggu, 2 Maret 2025 | 21:09 WIB
ilustrasi (jawa pos)
ilustrasi (jawa pos)


JAKARTA, SUMUTPOS.CO- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini diprediksi akan menguji pada level 6.200. Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 3,31 persen ke level 6.271 pada Jumat lalu (28/2). Dengan pelemahan tersebut, IHSG tercatat terkoreksi hingga 11 persen secara year to date (YtD).

Pelemahan tersebut dinilai sejalan dengan besarnya akumulasi jual investor asing yang masih terjadi. ”Secara teknikal, terbentuk pelebaran negative slope pada MACD, sehingga IHSG berpotensi uji support 6.200,” ujar Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan, Minggu(2/3).

Menurut Valdy, akumulasi jual investor asing sebelumnya sudah pernah terjadi beberapa kali dalam 10 tahun terakhir. Nilai akumulasi net sell investor asing terdekat adalah pada 2015 dengan posisi pelemahan IHSG sebesar 12,13 persen. Adapun, net sell investor asing sepanjang 1 Januari 2025 sampai dengan 28 Februari 2025 diperkirakan mencapai level yang sama dengan 2015 tersebut.

Sehingga, pada saat ini IHSG terindikasi mengalami pelemahan yang relatif lebih signifikan dibandingkan dengan akumulasi aksi jual yang terjadi dibandingkan dengan kondisi rata-rata sejak 2013. Sehingga, indikasi IHSG saat ini maka harga saham-saham masuk tergolong murah.

”Akan tetapi, terdapat indikasi pula bahwa tekanan jual asing terlalu kuat yang memicu reaksi pelaku pasar. Artinya, pasar masih perlu berhati-hati dengan potensi pelemahan lanjutan apabila aksi jual signifikan investor asing masih berlanjut,” bebernya.

Dari data ekonomi dalam negeri, pada awal pekan ini akan ada rilis data inflasi Februari. Indeks harga konsumen (IHK) bulan lalu diperkirakan akan lebih rendah menjadi 0,5 persen dibandingkan Januari yang tercatat 0,76 persen. Hal ini seiring dengan kebijakan diskon tarif listrik yang diberikan pemerintah untuk Januari dan Februari.

Sedangkan, sentimen luar negeri adalah implementasi tarif 25 persen untuk Kanada dan Meksiko, serta tarif tambahan 10 persen bagi Tiongkok oleh Pemerintah Amerika Serikat.

”Pasar juga masih mengantisipasi potensi reciprocal tariff yang mungkin akan diumumkan pasca FOMC pada 18-19 Maret 2025,” tutur Valdy.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan IHSG periode 24-28 Februari 2025 mengalami penurunan sebesar 7,83 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan, perubahan terjadi pula pada rata-rata frekuensi transaksi harian yang menurun 4,52 persen menjadi 1,18 juta kali transaksi dari 1,23 juta kali transaksi.

"Kapitalisasi pasar bursa pekan lalu juga mengalami koreksi sebesar 7,68 persen menjadi Rp 10.880 triliun dari Rp 11.786 triliun pada sepekan sebelumnya,"・ucap Kautsar.

Meskipun demikian, lanjut dia, peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata volume transaksi harian sebesar 21,62 persen menjadi 22,36 miliar lembar saham dari sebelumnya 18,38 miliar lembar saham.

"Investor asing pada perdagangan terakhir pekan lalu (28/2) mencatatkan nilai jual bersih Rp 2,91triliun. Dan, sepanjang tahun ini, asing mencatatkan nilai jual bersih Rp 21,90 triliun,"pungkasnya. (agf/dio/jpg/han)


Penutupan IHSG Sepekan Terakhir

-24 Februari: 6.749,6
-25 Februari: 6.587,09
-26 Februari: 6.606,18
-27 Februari: 6.485,45
-28 Februari: 6.270,6


Lima Saham Teraktif Perdagangan Jumat (28/2)

-BBRI: Rp 3.421.684.615.000
-BBCA: Rp 2.489.235.352.500
-BMRI: Rp 2.139.854.584.000
-MDKA: Rp 1.462.382.990.500
-INKP: Rp 876.377.651.500

Sumber: BEI

Editor : Redaksi
#ihsg