NEW YORK, Sumutpos.jawapos.com-Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) kembali menurunkan suku bunga acuannya, namun memberi sinyal kuat bahwa langkah pemangkasan lanjutan mungkin tidak akan terjadi hingga akhir tahun.
Dalam konferensi pers usai rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Rabu (30/10) waktu setempat, Gubernur The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa arah kebijakan moneter masih terbuka, namun pemangkasan suku bunga lebih lanjut belum menjadi kepastian.
“Dalam pembahasan komite, terdapat pandangan yang sangat beragam mengenai langkah ke depan. Pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada Desember bukanlah hal yang pasti,” ujar Powell.
Ia juga menyoroti keterbatasan data ekonomi akibat penutupan pemerintahan AS (government shutdown) yang belum berakhir. Situasi itu membuat publikasi data resmi terhambat dan menyulitkan The Fed membaca kondisi ekonomi secara akurat.
“Kami seperti sedang mengemudi dalam kabut. Dalam kondisi seperti ini, yang paling bijak adalah memperlambat laju,” kata Powell dikutip dari Reuters.
The Fed Turunkan Suku Bunga ke 3,75–4 Persen
Menurut laporan CNBC, The Fed memangkas Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75–4 persen. Keputusan itu disetujui mayoritas anggota komite, dengan hanya dua suara berbeda dari total 12 anggota.
Anggota Dewan Gubernur The Fed Stephen Miran menilai pemangkasan seharusnya lebih agresif, mencapai 50 basis poin, sedangkan Presiden Bank Sentral Kansas City Jeffrey Schmid menentang karena menganggap pelonggaran moneter saat ini terlalu dini.
Selain menurunkan suku bunga, FOMC juga mengumumkan penghentian pengetatan neraca (balance sheet drawdown) pada Desember mendatang. Bank sentral akan kembali melakukan pembelian terbatas surat utang pemerintah AS (Treasury Securities) untuk menjaga likuiditas pasar uang yang mulai mengetat.
Langkah ini diambil guna mencegah gangguan pada sistem keuangan di tengah ketidakpastian fiskal akibat shutdown yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Menurut CME Group, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan pada Desember menurun dari 90 persen menjadi 67 persen setelah pengumuman hasil rapat FOMC tersebut.
Peluang Positif bagi Pasar Emerging Market
Dari dalam negeri, Ekonom Universitas Surabaya (Ubaya) Werner Ria Murhadi menilai, penurunan suku bunga The Fed kali ini relatif terbatas karena inflasi AS masih di level 3 persen pada September—lebih tinggi dari target 2 persen.
“Selain itu, shutdown sejak 1 Oktober 2025 meningkatkan risiko terhadap perekonomian AS bila The Fed memaksakan pelonggaran lebih dalam,” ujarnya.
Namun, di sisi lain, keputusan ini membawa angin segar bagi negara berkembang seperti Indonesia. Dengan turunnya imbal hasil aset dolar AS, investor global cenderung mencari peluang investasi di emerging market yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
“Penurunan FFR menjadi kabar baik bagi Indonesia karena dapat menarik aliran modal asing ke pasar keuangan domestik,” tambah Werner.
Meski begitu, para analis menilai langkah The Fed tetap berhati-hati karena dunia tengah menghadapi kombinasi risiko: perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian fiskal di AS.
Dengan kebijakan moneter yang kini berada pada fase “menunggu dan melihat”, pasar global akan terus mencermati data ekonomi AS dan perkembangan government shutdown yang belum jelas kapan berakhir.
Untuk sementara, pesan Powell jelas: The Fed tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga, sebelum kabut ekonomi AS benar-benar mulai sirna.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan