Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Membangun Ekosistem Ekonomi Digital Indonesia: Ketika LazMall Menenun Kepercayaan, Inovasi, dan Pemberdayaan dalam Satu Ruang Digital

Redaksi • Selasa, 25 November 2025 | 17:52 WIB
LAZMALL: Seseorang menunjukkan kanal LazMall dari Lazada.
LAZMALL: Seseorang menunjukkan kanal LazMall dari Lazada.

Fatimah Siregar, warga Jalan Kampung Durian Medan, menundukkan kepalanya setiap kali mengingat pengalaman belanja online yang mengecewakan. Berkali-kali ia merasa tertipu. Foto produk yang menjanjikan, ternyata tak sesuai ekspektasi, barang yang sampai jauh dari janji, dan janji pengiriman cepat yang berakhir molor. “Gak lagi lah belanja online. Foto produk gak sesuai ekspektasi. Zonklah,” keluhnya, dalam suatu obrolan, kemarin.

Bagi wanita paruh baya yang masih melajang ini, belanja daring bukan lagi sekadar kemudahan, tapi ujian kepercayaan. Dan di sinilah peran platform digital terpercaya menjadi krusial, bukan hanya soal menjual produk, tapi membangun ekosistem yang memberi jaminan, kenyamanan, dan kepercayaan bagi jutaan konsumen Indonesia, seperti Fatimah.

Saat ini, Indonesia sedang berada pada revolusi digital. Dari Sabang hingga Merauke, jutaan konsumen bertransaksi setiap hari melalui internet. Indonesia juga dikenal sebagai salah satu pasar digital paling dinamis di dunia. Namun besarnya pasar tidak selalu berarti menjadi kualitas pengalaman pelanggan.

Bahkan, pertumbuhan cepat ini juga membawa risiko produk palsu, penjual tidak terverifikasi, hingga pengalaman belanja yang tidak memuaskan. Namun, hadirnya Lazada yang menyuguhkan kanal LazMall, bukan sekadar sebagai toko online, tetapi sebagai arsitek ekosistem digital yang menjanjikan keamanan, kualitas, dan inovasi.

Sebelum hadirnya kanal terkurasi seperti LazMall, kekhawatiran tentang produk palsu, layanan yang kurang transparan, atau ketidakpastian pengiriman, kerap menjadi isu yang membayangi konsumen.

Kini, paradigma itu bergeser. Data Lazada selama Festival 11.11 menunjukkan perubahan signifikan, dimana pembeli semakin memprioritaskan keaslian dibanding sekadar harga. LazMall, yang menampung lebih dari 32.000 brand internasional dan lokal, mencatat lonjakan transaksi dalam momen itu hingga 23 kali lipat dibanding hari biasa.

Ini bukan hanya angka penjualan, ini adalah indikator bahwa konsumen berbondong-bondong menuju ruang digital yang memberikan rasa aman. "Keaslian dan kualitas kini menjadi faktor utama dalam keputusan berbelanja. LazMall kini menjadi destinasi bagi pelanggan yang mencari produk orisinal dari penjual terverifikasi, dua elemen kunci yang membangun kepercayaan dalam belanja online,” ujar Chief Executive Officer Lazada Indonesia Carlos Barrera, dalam suatu kesempatan.

Pesta diskon 11.11 hanyalah momentum. Yang lebih penting adalah bagaimana momentum itu menghasilkan efek berkelanjutan, dimana kepercayaan yang meningkat, literasi digital yang tumbuh, penjual lokal yang diberdayakan, dan konsumen yang semakin cerdas dalam menilai kualitas.

Sebagai kanal premium, LazMall dirancang seperti mal fisik dengan kurasi ketat dan mekanisme perlindungan menyeluruh. Empat pilar utamanya yakni, jaminan produk asli 100 persen, pengembalian 30 hari mudah dan gratis, pengiriman tepat waktu, dan ekosistem penjual terverifikasi, menjadi fondasi yang menjaga integritas ruang digital tersebut.

Dari perspektif ekosistem digital, keempat pilar ini lebih dari sekadar kebijakan. Mereka adalah mekanisme mitigasi risiko yang mengurangi asimetri informasi, meningkatkan literasi konsumen, dan memperbaiki kualitas pasar digital. Inilah bentuk kehadiran platform digital sebagai “penanggung kualitas”, bukan sekadar perantara transaksi.

Yang menarik, perkembangan LazMall bukan hanya soal kurasi manual. Di balik layar ada Artificial Intelligence (AI) dan machine learning bekerja setiap hari, memindai ribuan produk untuk mendeteksi dan menghapus produk yang berpotensi melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Bahkan, portal Intellectual Property Protection (IPP) memungkinkan kolaborasi lebih cepat antara Lazada, brand, dan lembaga pemerintah seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Lazada juga menyematkan AI Lazzie milik Alibaba Group (Qwen), adalah asisten berbasis GenAI, membantu konsumen menemukan produk relevan sehingga konsumen dapat menemukan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka, mengakses promo, hingga menyesuaikan rekomendasi berdasarkan interaksi.


Di balik layar, empat agen AI lainnya selain AI Lazzie, yaitu Agen Pengembalian Dana, Agen Logistik, Agen Product Listing, dan Agen Pemasaran, memastikan produk penjual menjangkau pembeli yang tepat, memberikan visibilitas yang adil bagi penjual, serta menjaga proses retur dan refund tetap lancar dan akurat.

“Kelima agen AI ini bekerja secara simultan untuk menciptakan pengalaman belanja yang efisien, personal, dan terpercaya. Dengan AI, kami mengubah kompleksitas menjadi kesederhanaan. Inilah babak baru e-commerce di Asia Tenggara,” ujar Carlos Barrera.

Photo
Photo

Ini berarti AI tidak lagi hanya menjadi mesin, tapi menjadi bagian dari pengalaman, membentuk perjalanan belanja yang lebih personal, efisien, dan nyaman.

Riset Lazada yang bekerja sama dengan perusahaan riset profesional Kantar, memperlihatkan bahwa 88 persen konsumen Indonesia telah membuat keputusan belanja berbantuan AI, angka yang menunjukkan betapa cepatnya teknologi ini terinternalisasi dalam keseharian masyarakat.

Bagi penjual, fitur seperti Business Advisor, Smart Listing, dan Lazada IM Shop Assistant (LISA) menjadi “ruang kelas digital” yang menghadirkan data, wawasan, dan otomatisasi. Teknologi tidak hanya memudahkan, tetapi memberdayakan penjual, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas di panggung digital. Ini karena Lazada Business Advisor membawa wawasan tren pasar dan analitik performa toko, AI Smart Listing membantu penjual menciptakan product listing yang menarik dan dipersonalisasi, sedangkan LISA mempercepat komunikasi dengan pelanggan.

Namun, ekonomi digital bukan hanya soal belanja online, tetapi juga tentang pemberdayaan, salah satunya memberdayakan kreator. LazMall membuka pintu bagi kreator konten untuk menghasilkan pendapatan melalui afiliasi dan integrasi dengan video. Setiap klik, setiap penjualan, menjadi bukti bahwa teknologi dan kreativitas bisa berjalan beriringan, menciptakan peluang ekonomi nyata bagi generasi muda.

Lazada membaca tren ini dengan meluncurkan program afiliasi YouTube Shopping, memberikan kesempatan bagi kreator untuk menautkan produk langsung dari video dan mendapatkan komisi dari setiap transaksi. Dalam konteks ekosistem digital, kolaborasi ini penting karena mempertemukan tiga pihak, yakni kreator sebagai penggerak opini, brand sebagai penyedia nilai, dan pelanggan sebagai penerima manfaat. Ekonomi kreator tidak lagi menjadi sektor pinggiran. Ia kini menjadi jembatan antara storytelling dan commerce, antara komunitas dan produk, antara inspirasi dan transaksi.

Selain itu, Lazada menginvestasikan lebih dari US$25 juta (sekitar Rp400 miliar) untuk memperkuat ekosistem digital di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Investasi yang tepat sasaran, mulai dari penguatan brand di LazMall hingga pemberdayaan kreator, menandai keseriusan perusahaan tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga membangun pondasi pertumbuhan jangka panjang.

Pemprovsu Ajak Kolaborasi

Bicara soal pemberdayaan kreator, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut), juga melakukan hal yang sama. Program Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Provinsi Sumatera Utara, turut memberdayakan kreator.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Sumatera Utara Dr Naslindo Sirait, SE, MM, mengatakan saat ini pihaknya tak hanya mendorong UMKM untuk masuk ke e-commerce, tetapi juga memperkuat kapasitas digital mereka melalui program seperti Fast Track Youngpreneur. Dalam program ini, diberikan pelatihan khusus kepada para UMKM konten kreator, baik pelaku usaha yang membuat konten maupun kreator yang berkolaborasi membantu UMKM lain.

“Mereka dilatih agar mampu memproduksi konten pemasaran yang efektif, memahami perilaku audiens digital, serta membangun kerja sama dengan sesama peserta. Dengan cara ini, kami membangun ekosistem yang saling menguatkan, dimana UMKM membutuhkan konten, kreator membutuhkan pasar, dan keduanya tumbuh bersama,” ujar Naslindo Sirait kepada Sumut Pos, Senin (17/11/2025).

Menurut Naslindo Sirait, UMKM di Sumatera Utara saat ini sudah menunjukkan kemampuan adaptasi yang cukup kuat terhadap ekosistem digital. Banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan platform e-commerce dan media sosial untuk memasarkan produk, meningkatkan visibilitas merek, serta memperluas jangkauan pasar mereka ke luar daerah.

Naslindo Sirait menilai, perubahan ini terjadi karena digitalisasi tidak lagi dikerjakan oleh satu pihak saja, tetapi menjadi upaya bersama dikeroyok secara kolaboratif oleh berbagai stakeholder, mulai dari Bank Indonesia, kementerian dan BUMN, pelaku industri digital, hingga pemerintah daerah. “Kolaborasi multipihak inilah yang membuat transformasi digital UMKM berlangsung lebih cepat dan inklusif,” kata Naslindo Sirait lagi.

Dari sisi data, lanjut Naslindo Sirait, menurut Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT), sekitar 56,47% UMKM di Sumatera Utara sudah memanfaatkan ekosistem digital sebagai sarana pemasaran, sedangkan 43,53% telah menggunakan teknologi digital untuk mendukung proses produksi.

“Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah UMKM kita sudah masuk ke ranah pemasaran digital, dan hampir separuh mulai mengintegrasikan teknologi ke proses internal mereka. Ini perkembangan yang sangat signifikan,” urai Naslindo Sirait.

Baik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun Lazada Indonesia, nyatanya punya misi yang sama, yakni memberdayakan UMKM dan konten kreator. Karena itu, pihaknya mengajak Lazada Indonesia kembali berkolaborasi untuk melakukan pelatihan UMKM. “Lazada Indonesia pernah memberikan pelatihan kepada UMKM binaan kita beberapa waktu lalu. Kami berharap kolaborasi bisa terjalin lagi," harapnya.

Naslindo Sirait yakin, dengan dukungan kolaboratif lintas lembaga dan peningkatan kemampuan digital melalui pelatihan terstruktur, pihaknya optimis UMKM Sumatera Utara akan semakin kompetitif di pasar digital. 

Dukungan kolaborasi juga digaungkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Utara Dr Erwin Hotmansyah Harahap, SSTP, MM. Saat ini Pemerintah Sumatera Utara mengintensifkan kolaborasi dengan berbagai platform digital dan marketplace untuk mendorong UMKM lokal masuk ke ekosistem perdagangan digital.

Pemprov Sumut, katanya, terus menjalankan program edukasi untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi secara bijak, aman, dan produktif. “Kita harus memperkuat ekosistem digital dari hulu ke hilir. Pemerintah, pelaku usaha, platform digital, dan masyarakat harus berjalan bersama. Dengan literasi digital yang kuat, kita tidak hanya mendorong ekonomi, tetapi juga menciptakan masyarakat yang adaptif terhadap perubahan,” tutur Erwin kepada Sumut Pos, Selasa (17/11/2025).

Selain itu, lanjutnya, Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Utara tidak hanya bertugas mengembangkan infrastruktur dan ekosistem digital, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar, cepat, dan merata.

“Kami berperan penting dalam menyebarluaskan informasi pembangunan, termasuk program literasi digital. Melalui siaran pers, publikasi resmi, dan kerja sama dengan media massa, kami memastikan masyarakat mengetahui langkah pemerintah secara transparan,” jelasnya.

 

LAZADA: Seseorang saat membuka aplikasi Lazada.
LAZADA: Seseorang saat membuka aplikasi Lazada.

Menurut Erwin, media memiliki peran krusial dalam membangun awareness masyarakat, terutama terkait pentingnya literasi digital, keamanan berbelanja di e-commerce, dan peluang ekonomi digital. “Kita berharap perusahaan yang bergerak di industri digital bisa berkolaborasi dengan pemerintah Sumatera Utara,” harap Erwin.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara Farianda Putra Sinik, menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam membangun kepercayaan publik terhadap perkembangan ekonomi digital di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. 

“Ekonomi digital tidak akan tumbuh tanpa kepercayaan publik. Dan kepercayaan itu dibangun melalui informasi yang benar, berimbang, dan bertanggung jawab. Di sinilah peran media menjadi sangat penting,” ujar Farianda kepada Sumut Pos, Kamis (20/11/2025).

Farianda menjelaskan bahwa masuknya berbagai platform digital, marketplace, dan layanan e-commerce, membuka peluang besar bagi UMKM serta pelaku usaha untuk berkembang.

“Ekonomi digital hanya akan berkembang jika masyarakat merasa aman dan percaya. Dengan kolaborasi yang kuat dan pemberitaan yang bertanggung jawab, kita dapat mendorong Sumatera Utara menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi digital yang maju,” pungkasnya.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin, juga sependapat bahwa peran kecerdasan buatan (AI) kini tidak bisa lagi dipisahkan dari aktivitas ekonomi digital, termasuk perdagangan online.

Gunawan menilai, kehadiran AI telah menjadi bagian penting dalam rutinitas bisnis, baik bagi pelaku usaha maupun platform marketplace.

“Kehadiran AI dalam pengembangan algoritma platform digital belakangan ini memang tidak bisa dipisahakan dalam rutinitas pekerjaan sehari-hari. Termasuk rutinitas dalam ekonomi seperti perdagangan,” ujarnya kepada Sumut Pos, Selasa (25/11/2025).

Menurut Gunawan, teknologi AI mempermudah pedagang dalam berbagai aktivitas, mulai dari mengembangkan produk, menemukan calon pembeli potensial, mengumpulkan kebutuhan informasi konsumen, memantau perkembangan produk di marketplace, hingga membantu proses inovasi untuk menciptakan produk baru.

Ia menilai, marketplace besar seperti Lazada harus mampu mengoptimalkan seluruh fungsi AI untuk memperkuat ekosistem perdagangan digital. Terlebih, Lazada selama ini mengklaim sebagai platform yang paling aman dan paling dipercaya konsumen maupun penjual.

“Jika Lazada mengklaim bahwa marketplace miliknya adalah tempat yang paling aman dan paling dipercaya, maka saya menyarankan untuk tidak berhenti sampai di titik itu,” kata Gunawan.

Gunawan mengingatkan bahwa keberhasilan Lazada akan mendorong marketplace lain untuk meniru strategi dan inovasinya. Selain itu, ia menyebut tidak menutup kemungkinan munculnya oknum yang berupaya mengganggu kenyamanan yang sudah ditawarkan platform tersebut, baik melalui penipuan, manipulasi algoritma, maupun celah lain di ruang digital.

“Akan ada banyak marketplace lain yang belajar dari keberhasilan Lazada untuk ditiru, atau bukan tidak mungkin ada oknum yang akan mencoba mengganggu kenyamanan yang telah diberikan Lazada,” jelasnya.

Dengan tingkat persaingan yang semakin tinggi, kata Gunawan, Lazada harus terus melakukan peningkatan layanan serta kenyamanan pengguna. Menurutnya, kepuasan konsumen dan keamanan transaksi digital tidak boleh berhenti pada klaim keberhasilan saat ini.
“Jadi jangan puas dengan capaian yang telah diraih. Perubahan layanan dan kenyamanan yang lebih baik harus terus dilakukan,” tegas Gunawan.

Di masa depan, ketika generasi berikutnya berbelanja tanpa rasa khawatir, membangun usaha dari rumah dengan teknologi AI, atau memperoleh pendapatan dari konten kreatif, mereka mungkin tidak menyadari bahwa semua ini pernah dimulai dari fondasi-fondasi kecil, mulai dari jaminan keaslian, perlindungan HKI, inovasi AI, hingga kepercayaan yang tumbuh. Dan dalam perjalanan besar itu, LazMall telah menjadi salah satu batu pijakan penting.

Dengan kepercayaan sebagai fondasi, teknologi sebagai alat, dan kreator sebagai penggerak, Indonesia sedang menapaki masa depan di mana belanja online bukan sekadar transaksi, tetapi pengalaman yang memberi nilai tambah bagi semua pihak.

Masa depan e-commerce Indonesia bukan hanya tentang siapa yang menjual paling banyak, tetapi siapa yang menjadi paling terpercaya dan paling memberdayakan. Mulai sekarang, buang rasa ragu mu, segera kunjungi aplikasi Lazada, pilih kanal LazMall, isi keranjang belanja mu, dan bersiaplah untuk checkout. (Laila Azizah)

Editor : Redaksi
#lazada