Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Usai Imlek, Saatnya Terbang? Pola Lama Isyaratkan Bitcoin Siap Melejit

Johan Panjaitan • Selasa, 17 Februari 2026 | 10:15 WIB
Aset Kripto.
Aset Kripto.

SURABAYA, Sumutpos.jawapos.com-Periode Tahun Baru Imlek kembali menjadi momen yang dinanti pelaku pasar kripto global. Bukan sekadar fase koreksi musiman, masa menjelang dan sesudah perayaan justru dinilai sebagai titik krusial yang kerap membuka peluang besar bagi investor.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengungkapkan bahwa data historis menunjukkan pola berulang yang cukup konsisten. Dalam rentang 2015–2023, harga Bitcoin cenderung terkoreksi sekitar 10–20 persen dalam dua hingga tiga pekan menjelang Imlek. Namun setelah masa libur berakhir, pasar sering berbalik arah dan mencatat reli 15–35 persen dalam waktu relatif singkat.

Fenomena ini bukan kebetulan. Aktivitas investor dari Tiongkok disebut memiliki pengaruh besar terhadap dinamika pasar kripto global. Meski ada pembatasan ketat dari pemerintah, jumlah pemilik aset kripto di negara tersebut diperkirakan mencapai 59,1 juta orang, menjadikannya salah satu kekuatan utama dalam pergerakan likuiditas.

Riset dari 10x Research bahkan menemukan pola yang lebih spesifik. Strategi membeli Bitcoin tiga hari sebelum Imlek dan menjual 10 hari setelahnya secara historis menghasilkan rata-rata imbal hasil sekitar 11 persen. Angka ini memperkuat anggapan bahwa fase pasca-libur kerap menjadi momentum kebangkitan harga.

Menurut Calvin, menjelang Imlek banyak investor melakukan likuidasi untuk memenuhi kebutuhan musiman seperti perjalanan, pembagian angpao, hingga pengeluaran keluarga dan bisnis. Kondisi ini membuat tekanan jual meningkat, sementara aktivitas perdagangan di kawasan Asia cenderung melambat selama libur panjang.

Akibatnya, likuiditas pasar menipis dan harga menjadi lebih mudah bergejolak. Namun justru di situlah peluang terbuka.

Pola serupa terlihat pada 2024. Saat itu, Bitcoin sempat menyentuh USD 48.494 pada Januari sebelum terkoreksi ke kisaran USD 38.678. Setelah periode libur berakhir, harga berbalik menguat hingga menembus USD 56.650 di akhir Februari—pulih lebih dari 30 persen hanya dalam hitungan pekan.

Calvin menilai, volatilitas selama periode Imlek sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai risiko, tetapi juga peluang akumulasi. Meski demikian, ia mengingatkan pelaku pasar agar tetap waspada terhadap gejolak jangka pendek.

“Periode seperti Imlek memang menghadirkan volatilitas karena faktor likuiditas regional dan kebutuhan musiman. Namun investor harus melihatnya dalam konteks yang lebih luas, termasuk sentimen global dan arus dana institusional,” ujarnya.

Di tengah euforia potensi reli, disiplin strategi dan manajemen risiko tetap menjadi kunci. Sebab di balik peluang lonjakan, pasar kripto tetap bergerak cepat—dan tidak selalu memberi ruang bagi mereka yang terlambat membaca arah.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#bitcoin #investor #pasar kripto #imlek #Krusial