Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Dampak Perang Global, Harga Kemasan Minyak Goreng dan Beras Diprediksi Naik hingga 40 Persen

Redaksi • Senin, 6 April 2026 | 17:44 WIB
Biaya bahan baku menyumbang sekitar 50–70 persen dari total biaya produksi kemasan. Ketika harga bahan baku naik drastis, biaya kemasan pun ikut terdorong signifikan. (Freepik.com)
Biaya bahan baku menyumbang sekitar 50–70 persen dari total biaya produksi kemasan. Ketika harga bahan baku naik drastis, biaya kemasan pun ikut terdorong signifikan. (Freepik.com)

 

sumutpos.jawapos.com – Gejolak konflik global mulai terasa hingga ke sektor industri kemasan di Indonesia. Kenaikan harga bahan baku yang dipicu gangguan pasokan internasional diprediksi akan mendorong harga kemasan produk kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan beras melonjak signifikan.

Indonesia Packaging Federation (IPF) memproyeksikan harga kemasan fleksibel bisa naik hingga 40 persen. Melansir Instagram @lambegosiip, Senin (6/4/2026), kenaikan ini tidak lepas dari lonjakan harga bahan baku utama, khususnya plastik berbasis polimer, yang terdampak langsung oleh konflik di kawasan Timur Tengah.

Direktur Eksekutif IPF, Henky Wibawa, menjelaskan bahwa biaya bahan baku menyumbang sekitar 50–70 persen dari total biaya produksi kemasan. Ketika harga bahan baku naik drastis, biaya kemasan pun ikut terdorong signifikan.

Baca Juga: Bear Brand Gandeng Jamaah Masjid & Mitra Grab, Ajak Terapkan 5 Kebiasaan Sehat di Ramadan

Kondisi ini diperparah oleh terganggunya jalur distribusi global, termasuk jalur strategis perdagangan dunia. Dampaknya, pasokan bahan baku menjadi terbatas dan sejumlah industri harus menyesuaikan produksi.

Efek berantai pun tak terhindarkan. Produsen makanan pokok seperti minyak goreng dan beras kini menghadapi tekanan biaya tambahan. Pilihannya hanya dua: menaikkan harga jual atau menekan margin keuntungan.

IPF menilai situasi ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk inovasi bahan kemasan dan efisiensi produksi agar dampaknya bisa ditekan. Namun jika konflik berkepanjangan, potensi kenaikan harga di tingkat konsumen semakin sulit dihindari.

Baca Juga: Pemkab Langkat dan TNI Ground Breaking Jembatan Gantung di Kuala

Kabar potensi kenaikan harga ini langsung ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet mengaku khawatir karena harga kebutuhan pokok dinilai sudah tinggi sebelumnya.

Sebagian netizen menyoroti efek berantai yang selalu berujung pada masyarakat kecil. Mereka menilai, setiap ada kenaikan di sektor industri, ujung-ujungnya rakyat yang menanggung beban.

“Kalau kemasan naik, pasti harga minyak goreng ikut naik. Lagi-lagi rakyat kecil yang kena,” tulis seorang netizen.

Ada juga yang mempertanyakan ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor, khususnya plastik, sehingga rentan terhadap gejolak global.

Baca Juga: Kasus Korupsi Ketapangtan Binjai: Akademisi Minta Kejari Utamakan Transparansi

“Kenapa kita masih tergantung bahan impor? Harusnya bisa produksi sendiri biar nggak gampang terdampak perang,” komentar lainnya.

Di sisi lain, beberapa netizen mencoba melihat dari sudut pandang pelaku usaha. Mereka menyebut kenaikan harga sulit dihindari karena biaya produksi memang meningkat.

“Produsen juga pasti berat. Kalau nggak naik harga, bisa rugi. Serba salah,” tulis warganet lain.

Tak sedikit pula yang berharap pemerintah segera turun tangan agar harga tetap stabil dan daya beli masyarakat tidak semakin tertekan.(lin)

Editor : Redaksi
#Kemasan Minyak Goreng #harga naik #beras #minyak goreng #dampak perang