Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Direksi Borong Saham BBCA, Sinyal Kuat Rebound di Tengah Gejolak Pasar

Triadi Wibowo • Sabtu, 18 April 2026 | 18:28 WIB
Direksi Borong Saham BBCA, Sinyal Kuat Rebound di Tengah Gejolak Pasar.
Direksi Borong Saham BBCA, Sinyal Kuat Rebound di Tengah Gejolak Pasar.

 

JAKARTA - Di tengah fluktuasi pasar pada awal 2026, saham BBCA justru menunjukkan sinyal yang tidak biasa.

Alih-alih bersikap defensif, jajaran direksi dan manajemen bank terbesar di Indonesia ini tercatat agresif menambah kepemilikan saham mereka.

Aksi tersebut dinilai bukan sekadar transaksi rutin, melainkan strategi buy on weakness, membeli aset berkualitas saat harga sedang terkoreksi. Langkah ini memperlihatkan keyakinan tinggi dari pihak internal terhadap prospek jangka panjang perseroan.

Pada kuartal I 2026, sejumlah petinggi BCA menggelontorkan dana miliaran rupiah dari kantong pribadi untuk membeli saham perusahaan:

Hendra Lembong membeli saham senilai Rp7,93 miliar
John Kosasih Rp4,37 miliar
Vera Eve Lim Rp3,84 miliar
Santoso Rp3,46 miliar
Frenkie Candra Kusuma Rp2,87 miliar
Lianawaty Suwono Rp2,1 miliar

Langkah kolektif ini memperkuat pandangan bahwa harga saham saat ini dianggap sebagai peluang menarik oleh pihak yang paling memahami kondisi internal perusahaan.

Pengamat pasar modal Rendy Yefta menilai valuasi BBCA saat ini tergolong murah jika dilihat dari rasio PER.

“Saat ini BBCA diperdagangkan di kisaran PER 15 kali. Itu berarti investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga: Mentan Amran Apresiasi Langkah Cepat Bareskrim, Minta Aktor Penyelundupan Pangan Diusut Tuntas

Sebagai perbandingan, saham bank digital seperti ARTO diperdagangkan di kisaran PER sekitar 64 kali. Artinya, valuasi ARTO lebih dari empat kali lipat dibanding BBCA untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan.

Perbedaan ini dinilai tidak sebanding dengan fundamental kedua emiten. BCA dikenal memiliki kinerja stabil dengan laba besar dan pertumbuhan konsisten, sementara bank digital masih berada dalam fase ekspansi dengan risiko lebih tinggi.

Kondisi ini memunculkan indikasi adanya mispricing di pasar. Jika valuasi BBCA kembali ke kisaran historisnya di level PER 18–20 kali, potensi kenaikan harga saham dinilai masih terbuka lebar.

“Fenomena ini menunjukkan adanya diskon besar pada BBCA. Ketika pasar mulai menyadari, biasanya harga akan kembali ke level yang lebih wajar,” tambah Rendy.

Dengan fundamental kuat dan sinyal akumulasi dari internal perusahaan, saham BBCA dinilai memiliki peluang rebound signifikan. Target kembali ke level Rp10.000 per saham pun dinilai realistis dalam beberapa waktu ke depan, mengingat rekor harga tertingginya pernah mendekati Rp11.000 per lembar.

Di tengah keraguan pasar, langkah direksi yang berani justru menjadi sinyal penting. Kini, keputusan ada di tangan investor, masuk saat harga masih “diskon”, atau menunggu hingga harga kembali melesat. (rel/tri)

Editor : Redaksi
#Saham BBCA #Gejolak Pasar