Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah Pastikan Ekonomi Tetap Solid

Johan Panjaitan • Jumat, 10 Juli 2026 | 22:02 WIB
Seorang pegawai bank menunjukkan mata uang Dolar dan Rupiah. (arikamedia)
Seorang pegawai bank menunjukkan mata uang Dolar dan Rupiah. (arikamedia)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan di pasar keuangan. Pada perdagangan Jumat (10/7/2026), mata uang Garuda sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) sebelum ditutup di kisaran Rp18.069 per dolar AS, memperpanjang tren pelemahan sepanjang Juli.

Meski demikian, pemerintah menilai depresiasi rupiah lebih dipengaruhi dinamika ekonomi global daripada memburuknya kondisi fundamental ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan sejumlah indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang solid. Salah satunya tercermin dari pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen, serta neraca perdagangan yang secara kumulatif sepanjang tahun masih membukukan surplus.

"Sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang kuat. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen, sementara neraca perdagangan secara kumulatif sepanjang tahun masih membukukan surplus," ujar Airlangga di Jakarta, Jumat (10/7).

Baca Juga: Pastikan Tepat Sasaran, Wali Kota Tebing Tinggi Tinjau  Penyaluran Bantuan Beras untuk 10 Ribu KPM

Ia mengakui neraca perdagangan sempat mengalami defisit dalam satu bulan terakhir. Namun, menurutnya kondisi tersebut dipicu meningkatnya nilai impor bahan bakar minyak (BBM) akibat lonjakan harga energi di pasar global, bukan karena melemahnya aktivitas ekspor nasional.

Di sisi lain, komoditas unggulan Indonesia seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy masih mencatatkan kinerja ekspor yang relatif stabil.

"Sementara ekspor kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy relatif stabil. Ini tentu akan terus kita jaga dalam beberapa bulan ke depan," katanya.

Selain perdagangan, pemerintah juga memastikan inflasi nasional masih berada dalam rentang sasaran 2,5 persen ±1 persen, sehingga daya beli masyarakat dinilai tetap terjaga.

Untuk menopang sektor industri di tengah tekanan global, pemerintah menyiapkan sejumlah stimulus fiskal. Di antaranya penghapusan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK), serta pemberian tarif bea masuk nol persen untuk impor LPG industri petrokimia selama enam bulan.

Pemerintah juga menilai sektor keuangan domestik masih berada dalam kondisi sehat. Program prioritas seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit perumahan terus berjalan dengan capaian positif, didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang telah meningkat dua digit serta penyaluran kredit yang terus membaik dibanding kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Kejari Deliserdang Hentikan Perkara Penganiayaan Lewat Restorative Justice, Kedua Pihak Berdamai

Airlangga menambahkan, optimisme terhadap ekonomi Indonesia juga masih tercermin dari proyeksi sejumlah lembaga internasional seperti World Bank, Dana Moneter Internasional (IMF), dan OECD, yang masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen pada tahun ini.

"Jadi relatif semua masih menilai perekonomian Indonesia aman dan solid," tegasnya.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pergerakan rupiah sepanjang Juli 2026 menunjukkan tren fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah dibuka pada level Rp17.961 per dolar AS pada 1 Juli, kemudian bergerak di kisaran Rp17.960–Rp17.999 pada pekan pertama sebelum menembus level Rp18.005 pada 8 Juli, melemah hingga Rp18.090 pada 9 Juli, dan ditutup di Rp18.069 per dolar AS pada perdagangan 10 Juli. Kondisi tersebut mencerminkan masih tingginya tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi global.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#dollar as #airlangga hartarto #rupiah #bank indonesia #pemerintah