JAKARTA. Sumutpos.Jawapos.com– Siapa identitas sebenarnya Dewi Astutik, warga Ponorogo, Jawa Timur, yang diduga terlibat penyelundupan narkotika dua ton, memang masih teka-teki. Namun, Badan Narkotika Nasional (BNN) menduga buronan Interpol itu berada di perbatasan antara Thailand, Myanmar, dan Kamboja.
Di kawasan yang sama pula Fredy Pratama, gembong narkotika Asia Tenggara asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, juga diduga berada. Kepala Biro Humas dan Protokoler BNN Brigjenpol Sulistyo Pudjo Hartono menuturkan bahwa berdasarkan data pihaknya, diketahui ujung dari kasus ini merupakan Dewi.
"Jadi, Dewi ini paling ujung dari sindikat ini," paparnya kepada Jawa Pos baru-baru ini.
Upaya penyelundupan narkotika dua ton itu digagalkan TNI AL di perairan Selat Durian, Karimun, Kepulauan Riau, pada 13 Mei. Narkotika berjenis sabu dan kokain tersebut diangkut sebuah kapal ikan berbendera Thailand yang dikapteni seorang warga Thailand dan berkru empat orang warga Myanmar. Semuanya ditangkap.
Di Dusun Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo, sesuai kalimat yang tertera dalam KTP yang beredar di berbagai platform, Dewi Astutik tak dikenali tetangga dan perangkat desa. Ia diduga berangkat dengan izin menjadi pekerja migran Indonesia pada sekitar 2011 dengan menggunakan dokumen milik PA, sang adik, yang bukan warga Balong.
Kawasan Nirkontrol
Perbatasan Thailand, Myanmar, dan Kamboja dikenal sebagai ”wilayah tanpa hukum.” Kawasan ini dihuni banyak milisi bersenjata lengkap.
Pemerintah Thailand sempat melakukan operasi besar-besaran di perbatasan tersebut, salah satunya untuk mengejar Fredy. Namun, belum membuahkan hasil, kendati Pemerintah Thailand sempat mematikan akses aliran listrik ke wilayah tersebut.
Sementara itu, dalam konferensi pers di Batam pada Senin (26/5), Kepala BNN Komjen Marthinus Hukom tidak memberikan penjelasan keterkaitan antara Fredy dengan Dewi. Meski demikian, Fredy memang berada di lokasi yang hampir sama dengan Dewi.
Baca Juga: Titi Dj dan Cakra Khan akan Berduet untuk Single 'Layar'
"Di daerah perbatasan ini memang tidak bisa dikontrol pemerintah di sana," paparnya.
Fredy merupakan bandar narkotika terbesar di Indonesia. Ia terdeteksi memiliki ratusan kaki tangan yang telah tertangkap. Bahkan, penegak hukum berupaya mempersempit pergerakannya dengan menjerat tindak pidana pencucian uang terhadap keluarga Fredy di Indonesia.
Upaya Bareskrim timbal balik dengan kepolisian Thailand juga masih nihil. Bareskrim sudah menangkap buronan kakap Negeri Gajah Putih itu, Chaowalit Thongduang, tapi kepolisian Thailand masih belum berhasil menangkap Fredy. (idr/ttg/jpg)
Editor : Johan Panjaitan