LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com-Upaya peredaran 50 kilogram sabu yang digagalkan aparat kepolisian di pesisir timur Sumatera bukan sekadar operasi rutin. Di baliknya, tersingkap rangkaian peristiwa yang bergerak cepat dan berlapis: dari informasi intelijen di perairan Selat Malaka, bisik-bisik kepercayaan pada “dukun”, hingga akhir dramatis berupa kecelakaan mobil di jalur pipa minyak di Rokan Hilir, Riau.
Semua bermula dari laut. Sejak awal pekan, Satuan Reserse Narkoba Polres Labuhanbatu telah mengantongi informasi mengenai pengiriman sabu dalam jumlah besar yang akan masuk melalui jalur perairan menuju Kecamatan Panai Hilir. Informasi itu bukan sekadar rumor—melainkan hasil pemantauan yang telah menempatkan jaringan ini dalam radar aparat.
“Para pelaku sudah sejak awal menjadi target pengawasan,” ujar sumber internal kepolisian, Senin (27/4/2026).
Baca Juga: KAI Divre I Sumut Siapkan 23 Ribu Kursi di Libur Panjang Hari Buruh
Namun, jaringan ini bergerak dengan pola yang tidak lazim. Mereka disebut melibatkan sosok spiritual yang diyakini mampu membaca situasi dan mendeteksi ancaman. Ketika muncul kecurigaan adanya pengawasan, keputusan cepat diambil: titik pendaratan dipindahkan.
Dari Panai Hilir, rute dialihkan ke sebuah tangkahan tersembunyi di pesisir Rokan Hilir—pergeseran yang tidak hanya mengubah koordinat, tetapi juga strategi. Jarak puluhan kilometer ditempuh demi menghindari bayang-bayang aparat.
Polisi tidak terpancing untuk bergerak gegabah. Alih-alih melakukan penyergapan terbuka, mereka memilih pendekatan senyap—membuntuti. Dua unit kendaraan dikerahkan, mengikuti pergerakan dari Labuhanbatu hingga ke lokasi baru di Rokan Hilir.
Di sana, transaksi berlangsung cepat. Karung-karung goni berisi sabu dipindahkan dari perahu ke dalam bagasi sebuah mobil hitam. Tak ada waktu terbuang. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Sang kurir, yang mengemudi bersama istri dan anaknya, mulai menyadari kehadiran pihak lain di belakangnya. Kepanikan pun mengambil alih. Mobil melesat, meninggalkan lokasi dengan kecepatan tinggi, menyusuri jalan semi-pedesaan.
Di Km 25, Desa Menggala Sakti, situasi mencapai titik puncak. Saat kendaraan aparat mencoba memepet dari sisi kiri, sopir mobil kurir membanting setir ke kanan. Kendaraan kehilangan kendali, menghantam bahu jalan, lalu berakhir dengan tabrakan keras ke pipa minyak. As roda rusak, bodi ringsek—perjalanan pun terhenti di sana.
Baca Juga: Mega Fitness Center Sukses Selenggarakan Hydrox Race Simulation di Medan
Meski operasi bermula dari wilayah hukum mereka, Polres Labuhanbatu memilih menahan diri dalam memberikan keterangan. Dalam konferensi pers, Kapolres AKBP Wahyu Endrajaya hanya menyampaikan bahwa penanganan perkara kini berada di tangan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut.
“Kasus ini masih dalam pendalaman. Untuk detail lebih lanjut, akan disampaikan oleh Polda Sumut,” ujarnya singkat.
Sikap hati-hati itu menandakan satu hal: perkara ini belum sepenuhnya terbuka. Jumlah tersangka, peran masing-masing, hingga kemungkinan keterlibatan jaringan yang lebih luas masih menjadi bagian dari teka-teki yang disusun aparat.
Di saat bersamaan, aparat juga tengah menangani pengungkapan lain di wilayah yang sama—penangkapan delapan tersangka dengan barang bukti sabu seberat 3,89 gram di Tanjung Medan, Bilah Barat. Sebuah ironi yang menegaskan bahwa peredaran narkotika masih terus mencari celah, bahkan di tengah operasi besar yang sedang berlangsung.(fdh/han)
Editor : Johan Panjaitan