MEDAN, Sumutpos.jawapos.com-Nasib pilu dialami Guntur Sugoro (41). Satpam di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu menjadi korban pembegalan brutal yang nyaris merenggut nyawanya di Jalan Pasaribu, Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.
Peristiwa mencekam itu terjadi pada Senin malam (11/5/2026). Guntur diserang lima pelaku yang disebut bertindak sadis. Ia mengalami luka bacok di bagian punggung serta terkena tembakan senapan angin rakitan hingga proyektil sempat bersarang di tubuhnya.
Kasus tersebut sempat mengguncang publik setelah beredar kabar bahwa korban pulang ke rumah dengan peluru masih tertanam karena terkendala biaya operasi yang disebut mencapai puluhan juta rupiah.
Namun di tengah kondisi sulit itu, bantuan datang dari Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni. Politikus yang dikenal aktif membantu korban kejahatan jalanan itu disebut turun tangan membiayai pengobatan Guntur hingga akhirnya dapat menjalani operasi di Siloam Hospitals Medan.
Baca Juga: Hotel dan Akomodasi Peserta ASEAN-19 2026 Telah Disiapkan
Saat ditemui di rumah sakit, Jumat (29/5/2026), kondisi Guntur mulai menunjukkan perkembangan positif. Setelah lima hari menjalani perawatan intensif, peluru yang bersarang di tubuhnya akhirnya berhasil diangkat.
“Sekarang kondisi saya sudah mulai membaik. Sudah lima hari dirawat di sini dan pelayanannya sangat baik,” ujar Guntur.
Dengan suara pelan, ia juga mengungkap rasa syukur dan terima kasih kepada Ahmad Sahroni yang disebut membantunya mendapatkan penanganan medis.
“Kalau bukan karena Pak Sahroni, mungkin saya tidak bisa dirawat di sini,” katanya.
Meski kondisi fisiknya mulai pulih, trauma dan kelelahan mental masih membekas. Guntur berharap kejadian serupa tidak lagi menimpa warga lain dan meminta pemerintah memberi perhatian serius terhadap korban kejahatan jalanan.
“Korban begal harus mendapat perhatian lebih serius,” tegasnya.
Di tengah proses pemulihan, Guntur juga mengaku kecewa karena tetap harus menjalani proses hukum dalam kondisi tubuh belum sepenuhnya pulih. Ia menyebut sempat diminta mengikuti olah tempat kejadian perkara dan telah dua kali menjalani pemeriksaan.
Kasus ini sebelumnya menjadi viral di media sosial setelah muncul informasi bahwa Guntur sempat dipulangkan dalam kondisi peluru masih berada di tubuhnya. Namun pihak rumah sakit membantah tudingan tersebut dan menyatakan keluarga korban yang menolak rujukan ke rumah sakit lain.
Hingga kini, kasus pembegalan sadis tersebut masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Sementara bagi Guntur, perjuangan belum sepenuhnya selesai—bukan hanya untuk memulihkan luka di tubuhnya, tetapi juga mengembalikan rasa aman setelah menjadi korban keganasan jalanan.(rel/han)
Editor : Johan Panjaitan