Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ashanty Puasa 100 Jam, Bagaimana Dampaknya?

Juli Rambe • Senin, 21 April 2025 | 14:35 WIB
Ashanty. (Dok: instagram)
Ashanty. (Dok: instagram)

 

SUMUTPOS.CO- Artis Ashanty dengan tekad yang kuat telah menyelesaikan misi menjalani puasa 100 jam atau prolonged fasting dengan penuh semangat. 

Isteri Anang Hermansyah itupun menjelaskan maksud dan tujuannya melakukan puasa panjang ini.

Menjalani puasa cukup panjang, wanita berusia 41 itu mengaku tak lapar ataupun lemas. Ia masih bisa melakukan banyak kegiatan. Namun tetap menghindari aktivitas fisik yang berat.

"Alhamdulillah banget aku ngerasa badan aku lebih sehat dari yang dulu. Ini udah puasa 96 jam, udah hari keempat hampir 100 jam loh aku udah puasanya. Gak laper dan ngerasa lemes cuma mau beraktivitas yang berat gak nyaman ya. Aku masih bisa jalan, masih bisa belajar, masih bisa ibadah," ungkap Ashanty.

Ibu sambung daei Aurel Hermansyah ini pun menjelaskan kenapa dirinya mau melakukan diet ini.

Ashanty diketahui mengidap autoimun. Ia harus mengonsumsi obat steroid untuk menyembuhkan penyakitnya. Rupanya, obat tersebut tak cocok untuknya hingga berdampak pada wajahnya yang mengalami moon face. Moon face adalah kondisi medis di mana wajah terlihat membengkak dan membulat, mirip dengan bulan purnama.

"Aku mau cerita karena aku dulunya minum obat autoimun jadi kalau minum obat steroid itu bikin kita moon face. Aku udah gak minum obat steroid lagi. Apa yang menyembuhkan aku dari obat steroidnya ya berpuasa. Aku sinusitis, parah banget. Aku dikasih obat steroid untuk satu bulan selama liburan," terang Ashanty.

"Pas liburan kemarin aku naik sekilo doang, muka aku bengep banget, semua jadi bengkak. Mungkin aku gak cocok sama steroid. Sekarang alhamdulillah udah kempes lagi karena aku berpuasa," sambungnya.

Dirinya menjelaskan, sebelum melalukan puasa 100 hari ini, Ashanty terlebih dahulu membaca jurnal, konsultasi ke dokter dan menonton video.

Apakah Puasa 100 Jam itu?

Dalam laporan yang diterbitkan di National Library of Medicine, puasa berkepanjangan (prolonged fasting) dikerjakan umumnya dalam durasi 5 hingga 20 hari. Dengan durasi tersebut, tubuh menghasilkan peningkatan keton dan terjadi penurunan berat badan ringan hingga sedang sebesar 2 hingga 10 persen. 

"Sekitar dua per tiga dari berat badan yang hilang adalah massa ramping, dan sepertiganya adalah massa lemak. Kehilangan massa ramping yang berlebihan menunjukkan bahwa puasa berkepanjangan dapat meningkatkan pemecahan protein otot," ungkap laporan tersebut. 

Lalu, manfaat lainnya adalah tekanan darah sistolik dan diastolik secara konsisten menurun dengan puasa berkepanjangan. Namun, dampak protokol ini pada lipid plasma kurang jelas. 

Sementara beberapa uji coba menunjukkan penurunan kolesterol LDL dan trigliserida, yang lain tidak menunjukkan manfaat. Mengenai kontrol glikemik, penurunan glukosa puasa, insulin puasa, resistensi insulin, dan hemoglobin terglikasi (HbA1c) dicatat pada orang dewasa dengan normoglikemia. 

"Sebaliknya, faktor-faktor glukoregulasi ini tetap tidak berubah pada pasien dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2," tambah laporannya. 

Efek dari pemberian makanan kembali juga diperiksa dalam beberapa uji coba. Didapat bahwa tiga hingga empat bulan setelah puasa selesai, semua manfaat metabolik tidak lagi diamati, bahkan ketika penurunan berat badan dipertahankan. 

Mengenai efek samping, asidosis metabolik, sakit kepala, insomnia, dan rasa lapar diamati dalam beberapa penelitian. Singkatnya, puasa yang berkepanjangan tampaknya merupakan terapi diet yang cukup aman yang dapat menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan secara klinis (>5%) selama beberapa hari atau minggu. 

"Namun, kemampuan protokol ini untuk menghasilkan perbaikan berkelanjutan dalam penanda metabolik memerlukan penyelidikan lebih lanjut," ungkap laporannya. 

Ashanty melakukan prolonged fasting dengan tetap mengonsumsi cairan. Jadi, dirinya hanya makan di awal sebelum puasa dimulai. Lalu, selama 100 jam puasa, dirinya mengonsumsi air putih, teh (green tea), dan kopi hitam. Semua cairan tersebut diperhatikan kalorinya dan tidak mengandung gula sama sekali. (bbs/ram)

 

Editor : Juli Rambe