JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Film Esok Tanpa Ibu, karya sutradara Ho Wi-ding, menghadirkan drama keluarga dengan balutan science fiction yang relevan dengan realitas masa kini. Film ini mengeksplorasi kecanggihan artificial intelligence (AI) dalam relasi emosional manusia, khususnya ketika teknologi hadir menggantikan peran yang paling personal: seorang ibu.
Kisah berpusat pada Rama (Ali Fikry), seorang remaja yang dunianya berubah drastis setelah sang ibu, Laras (Dian Sastrowardoyo), mengalami koma. Hubungan Rama dengan ayahnya, Hendy (Ringgo Agus Rahman), pun kian merenggang. Terjebak dalam kesepian dan kehilangan, Rama kemudian memanfaatkan sebuah teknologi AI bernama I-Bu, yang dirancang menyerupai sosok ibunya, sebagai upaya mengatasi duka dan kehampaan.
“Film ini memiliki angle kebaruan dengan konsep drama yang kuat, sekaligus menghadirkan elemen AI yang sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini,” ujar produser Esok Tanpa Ibu, Aoura Lovenson Chandra, dalam konferensi pers di Plaza Senayan XXI, Jakarta Pusat, Senin (15/12/2025).
Untuk memperkuat gambaran dunia masa depan, film ini menggunakan metode virtual production (VP) dalam proses syuting. Teknologi tersebut memungkinkan penciptaan latar visual futuristik secara imersif, sekaligus memberikan pengalaman sinematik yang berbeda.
Tantangan Akting di Era Teknologi
Bagi Ringgo Agus Rahman, beradu akting dengan teknologi AI menjadi tantangan tersendiri. Ia mengaku harus beradaptasi dengan metode syuting yang tidak konvensional dan sangat bergantung pada kecanggihan teknologi.
“Secara teknis memang tidak berjalan seperti syuting biasanya. Itu menantang dan benar-benar sesuatu yang baru. Saya harus menyesuaikan diri dengan aspek teknis yang berbeda,” kata Ringgo.
Sebelum syuting dimulai, Ringgo sempat menjalani simulasi dan uji kamera untuk memahami penerapan teknologi yang digunakan. Menurutnya, proses tersebut sangat membantu dalam pendalaman karakter sekaligus menjawab rasa penasarannya terhadap teknologi virtual production.
“Kami sempat test cam, jadi tahu seperti apa teknologinya dan bagaimana alurnya saat pengambilan gambar,” ujarnya.
Refleksi Emosional Seorang Ayah
Lebih dari sekadar tantangan teknis, Esok Tanpa Ibu juga memberikan dampak emosional bagi Ringgo secara personal. Ia mengaku film ini menampar sisi terdalam dirinya, terutama terkait peran dan ketergantungan dalam keluarga.
“Tamparannya seperti bilang, ‘Boleh nggak, Nggo, jangan terlalu mengandalkan istri? Kamu juga dibutuhkan,’” ungkapnya.
Relasi antara Hendy dan Rama dalam film ini juga menyentil nurani Ringgo sebagai seorang ayah. Ia merasa diingatkan kembali tentang makna kehadiran dan tanggung jawab orang tua terhadap anak.
“Gue jadi mempertanyakan diri sendiri, ‘Lo mau jadi ayah seperti apa ke depan?’ Film ini seperti mengajarkan itu lagi,” tuturnya.
Dijadwalkan tayang di bioskop pada 22 Januari 2026, Esok Tanpa Ibu menawarkan perpaduan emosi, teknologi, dan refleksi kemanusiaan—sebuah drama sci-fi yang tidak hanya berbicara tentang masa depan, tetapi juga tentang kehilangan, kehadiran, dan cinta dalam keluarga.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan