Nama selebgram Julia Prastini atau Jule kembali menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial. Kali ini, sorotan publik tertuju pada kemunculan singkatnya tanpa hijab dalam sebuah video yang viral dan memicu perdebatan panjang di ruang digital. Peristiwa ini kembali membuka diskursus tentang cancel culture yang kerap menjerat figur publik di Indonesia.
Seperti dilansir dari unggahan akun gosip Instagram @pembasmii.kehaluan, Selasa (6/1/2026), video singkat tersebut awalnya muncul di Instagram Story akun pribadi Jule, @juliaprt17. Dalam cuplikan berdurasi beberapa detik, Jule terlihat tampil tanpa hijab dengan rambut lurus berponi berwarna kemerahan, mengenakan tanktop yang memperlihatkan bagian bahu.
Meski unggahan itu tak bertahan lama dan segera dihapus, jejak digitalnya terlanjur menyebar. Rekaman video tersebut diunggah ulang oleh sejumlah akun dan dengan cepat beredar luas, terutama di TikTok, hingga akhirnya viral dan menuai beragam reaksi warganet.
Kolom komentar di unggahan @pembasmii.kehaluan pun dipenuhi respons yang kontras. Sebagian netizen melontarkan pujian atas penampilan baru Jule. Komentar seperti “Cantiknya beda, auranya kayak artis Korea” hingga “Mirip Lee Sung Kyung versi Indonesia” ramai bermunculan. Tak sedikit pula yang menilai Jule terlihat lebih dewasa dan elegan.
Namun, di sisi lain, keterkejutan juga mendominasi percakapan. Beberapa netizen mengaku tak menyangka melihat Jule tampil tanpa hijab, mengingat citranya selama ini dikenal sebagai selebgram berhijab. Komentar bernada kaget hingga mempertanyakan perubahan tersebut turut meramaikan diskusi.
Di tengah riuhnya reaksi itu, muncul pula suara-suara yang menolak penghakiman. Sejumlah warganet menegaskan bahwa pilihan berpakaian adalah hak personal. “Selama dia nyaman, itu urusan dia,” tulis salah satu komentar yang mendapat banyak dukungan.
Viralnya video Jule ini kemudian tak bisa dilepaskan dari bayang-bayang cancel culture. Perubahan penampilan seorang figur publik, terlebih yang sebelumnya memiliki citra tertentu, kerap dianggap sebagai “pelanggaran” oleh sebagian warganet. Dari situlah, gelombang penilaian moral, kritik berlebihan, hingga ajakan menarik dukungan mulai bermunculan.
Dalam beberapa komentar, terlihat jelas polarisasi antara warganet yang mengaitkan penampilan Jule dengan standar moral pribadi dan mereka yang membela kebebasan individu. Perdebatan tersebut menunjukkan bagaimana cancel culture bekerja: satu unggahan singkat dapat berkembang menjadi pengadilan sosial massal.
Bagi kelompok yang menentang cancel culture, fenomena ini dianggap berbahaya karena mempersempit ruang privasi figur publik. Mereka menilai tekanan sosial semacam itu justru mendorong perundungan digital dan menormalisasi penghakiman kolektif tanpa memahami konteks personal seseorang.
Isu cancel culture sendiri memang menjadi dilema di era media sosial. Ruang kritik terbuka lebar, namun batas antara kritik konstruktif dan persekusi kerap kabur. Ketika reaksi muncul secara masif dan emosional, figur publik sering kali berada dalam posisi tertekan tanpa ruang klarifikasi yang sehat.
Hingga kini, Jule belum memberikan pernyataan resmi terkait viralnya video tersebut. Sikap bungkam ini justru membuat perbincangan semakin liar, sekaligus menjadi cermin bagaimana satu momen singkat di media sosial bisa berubah menjadi diskursus panjang tentang identitas, kebebasan berekspresi, dan kerasnya budaya cancel culture di dunia digital. (Lin)
Editor : Redaksi