Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Kisah Inspiratif Kedungrong Kulon Progo: Bencana Longsor Mengubah Warga Menjadi Mandiri Energi

Redaksi • Kamis, 9 Juli 2026 | 23:42 WIB
Warga Dusun Kedungrong, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini mandiri energi. (Instagram @pandemictalks)
Warga Dusun Kedungrong, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini mandiri energi. (Instagram @pandemictalks)

sumutpos.jawapos.com - Bencana longsor yang terjadi pada 2001 menjadi titik awal lahirnya sebuah gerakan kemandirian energi di Dusun Kedungrong, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berawal dari kondisi sulit pascabencana, warga bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai menggagas pemanfaatan potensi alam sekitar untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.

Melansir Instagram @pandemictalks, Kamis (9/7/2026), ide pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Kedungrong muncul ketika mahasiswa KKN UGM melihat potensi besar aliran Irigasi Kalibawang. Saluran irigasi yang selama ini hanya digunakan untuk mengairi lahan pertanian ternyata memiliki debit aliran yang cukup untuk dikembangkan menjadi sumber energi listrik bagi warga.

Gagasan tersebut kemudian diperjuangkan selama 11 tahun hingga akhirnya terealisasi. Pada tahap awal, pembangkit sederhana hanya dimanfaatkan untuk penerangan jalan. Namun, dengan dukungan masyarakat dan berbagai pihak, pembangunan PLTMH dilakukan secara lebih serius hingga mampu menjadi sumber energi bagi warga.

Baca Juga: Pertamina Tambah Pasokan Biosolar di Tebingtinggi, Distribusi BBM Berangsur Normal

“Awalnya hanya kecil untuk penerangan jalan. Kemudian pada 2012 dibangun lebih baik dengan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, Dinas PU ESDM DIY, dan BBWSO,” ujar Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong, Sumberini.

Pada akhir November 2012, PLTMH Kedungrong mulai beroperasi dengan kapasitas mencapai 18.000 watt. Hingga kini, pembangkit tersebut masih berjalan dan menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan energi terbarukan berbasis masyarakat.

PLTMH Kedungrong kini menjadi sumber listrik utama bagi sekitar 50 kepala keluarga di wilayah tersebut. Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, pembangkit ini juga memasok energi untuk sekitar 30 titik lampu jalan yang membantu aktivitas warga pada malam hari.

Baca Juga: Prudential Indonesia Luncurkan Levela, Platform Edukasi Keuangan Gratis untuk Tingkatkan Literasi Finansial Gen Z

Pengelolaan PLTMH dilakukan secara mandiri oleh warga melalui KMTI PLTMH Kedungrong. Sistem operasionalnya mengandalkan partisipasi masyarakat dengan mekanisme iuran sekitar Rp12 ribu per bulan dari pengguna listrik.

Kemandirian tersebut membuat PLTMH Kedungrong memiliki peran penting, terutama ketika terjadi pemadaman listrik dari jaringan utama PLN. Saat aliran listrik terganggu, pembangkit berbasis tenaga air ini tetap mampu menjadi sumber energi alternatif bagi masyarakat.

Lebih dari sekadar pembangkit listrik, PLTMH Kedungrong kini berkembang menjadi tempat pembelajaran energi terbarukan. Lokasi tersebut banyak dikunjungi mahasiswa, peneliti, hingga tamu dari berbagai negara untuk mempelajari pengelolaan mikrohidro berbasis komunitas.

Baca Juga: Komisi I DPRD Sergai Bedah Sengketa Lahan 10 Hektare, Ahli Waris Serahkan Dokumen Kepemilikan Sejak 1972

Perjalanan panjang warga Kedungrong menunjukkan bahwa keterbatasan dapat menjadi awal lahirnya inovasi. Dari sebuah bencana longsor, muncul semangat gotong royong yang melahirkan solusi energi berkelanjutan dan terus memberi manfaat bagi masyarakat selama lebih dari satu dekade.(lin)

Editor : Redaksi
#Kulon Progo #energi terbarukan #pltmh #yogyakarta #kemandirian energi