sumutpos.jawapos.com - Melihat tumpukan kulit buah sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah, tujuh siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan justru menemukan peluang untuk menciptakan inovasi ramah lingkungan.
Alih-alih menjadi sampah organik yang terbuang, kulit buah tersebut mereka olah menjadi bahan alternatif pembuatan bata dan genteng yang lebih berkelanjutan. Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (13/7/2026), ide tersebut muncul dari kepedulian para siswa terhadap persoalan limbah sekaligus keinginan menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Selama kurang lebih dua bulan, tim karya ilmiah MAN 1 Medan melakukan serangkaian eksperimen untuk menemukan komposisi terbaik antara bubuk kulit buah dan tanah liat. Proses tersebut tidak selalu berjalan mulus karena beberapa percobaan mengalami kegagalan saat pembakaran.
Salah satu anggota tim, Fauzul, mengungkapkan bahwa mereka sempat mencoba perbandingan bahan dengan komposisi dua banding satu, yakni dua bagian kulit buah dan satu bagian tanah liat. Namun, hasilnya belum sesuai harapan karena material tidak mampu bertahan saat proses pembakaran.
“Sebagai gambaran, awalnya kami buat dua banding satu, dua untuk kulit buahnya dan satu untuk tanah liatnya. Kami coba, tapi ternyata gagal saat proses pembakaran. Jadi kami ubahlah komposisinya sehingga padu dan tidak rusak jika dibakar dan dicetak menjadi bata dan genteng,” ujar Fauzul.
Setelah melalui berbagai pengujian, para siswa akhirnya menemukan formula yang membuat material tersebut lebih kuat. Bata dan genteng hasil inovasi mereka mampu menahan beban hingga 80 kilogram, sekaligus memiliki nilai tambah karena memanfaatkan limbah organik yang sebelumnya tidak bernilai.
Inovasi tersebut kemudian dibawa ke ajang internasional Japan Design Idea and Invention Expo di Osaka, Jepang. Dalam kompetisi itu, karya siswa MAN 1 Medan berhasil meraih medali emas setelah bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai negara, seperti China, Thailand, Inggris, hingga Arab Saudi.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa ide sederhana yang berangkat dari persoalan di sekitar lingkungan sekolah dapat berkembang menjadi inovasi berkelas dunia.
Tidak hanya mendapat pengakuan internasional, karya para siswa ini juga telah mengantongi sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Ke depan, inovasi bata dan genteng berbahan kulit buah ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam mengurangi limbah organik, khususnya dari program MBG di sekolah-sekolah.(lin)
Editor : Redaksi