Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Sekolah Perbatasan NTT Juara Asia Pasifik, Sulap Limbah Kulit Pisang Jadi Inovasi Ramah Lingkungan

Redaksi • Kamis, 16 Juli 2026 | 04:30 WIB
SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinobatkan sebagai juara utama dalam ajang AIA Healthiest Schools Competition 2026. (Ilustrasi/Pexels.com)
SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinobatkan sebagai juara utama dalam ajang AIA Healthiest Schools Competition 2026. (Ilustrasi/Pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas pendidikan, sebuah sekolah di wilayah perbatasan Indonesia justru berhasil mencetak prestasi membanggakan di tingkat Asia Pasifik. SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinobatkan sebagai juara utama dalam ajang AIA Healthiest Schools Competition 2026 melalui inovasi pengolahan limbah kulit pisang.

Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (15/7/2026), prestasi tersebut diraih setelah sekolah yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste itu berhasil mengungguli hampir 1.000 peserta dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik. Inovasi yang membawa mereka meraih penghargaan tersebut adalah Huka Upcycling Project, sebuah program yang mengubah limbah kulit pisang menjadi produk bernilai guna melalui konsep ekonomi sirkular.

Melalui program tersebut, para siswa dan guru mengolah kulit pisang yang sebelumnya dianggap sebagai sampah menjadi berbagai produk, mulai dari es krim berbahan dasar olahan kulit pisang, kompos, hingga pupuk cair organik. Selain mengurangi limbah, program ini juga menjadi sarana edukasi bagi siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan.

Baca Juga: Tunangan dengan Busana Oversize Viral, Netizen Sebut Pasangan Ini “The Real Sakinah Mawaddah Skenah”

Keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa terasa semakin istimewa karena sekolah tersebut berada di wilayah dengan tantangan geografis yang tidak mudah. Para siswa harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer untuk mencapai sekolah, melewati jalan berbatu bahkan menyeberangi sungai tanpa jembatan.

Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar dan berinovasi. Justru dari keterbatasan itulah lahir kreativitas yang mampu membawa nama sekolah hingga ke tingkat internasional.

Head Judge AIA Healthiest Schools Competition, Stuart A. Spencer, menilai keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa menjadi bukti bahwa keterbatasan sarana bukan penghalang bagi sekolah untuk menciptakan perubahan positif.

Baca Juga: SPBU Jalan Sisingamangaraja Medan Masih Alami Antrean Panjang

Program Huka Upcycling Project dinilai tidak hanya memberikan dampak bagi lingkungan sekolah, tetapi juga membawa manfaat lebih luas bagi masyarakat sekitar. Hingga kini, inovasi tersebut telah memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 warga di kawasan perbatasan.

Atas pencapaiannya, SMP IL Kapten Fatubaa memperoleh hadiah sebesar 40.000 dolar AS atau sekitar Rp723 juta. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk mengembangkan berbagai program kesehatan, pendidikan, serta keberlanjutan lingkungan di sekolah.

Kisah SMP IL Kapten Fatubaa menjadi gambaran bahwa inovasi tidak selalu lahir dari tempat dengan fasilitas lengkap. Dari sebuah desa kecil di ujung negeri, para siswa membuktikan bahwa ide sederhana seperti mengolah limbah kulit pisang dapat membawa perubahan besar hingga panggung Asia Pasifik.(lin)

Editor : Redaksi
Sekolah Indonesia Upcycling Ekonomi Sirkular inovasi pelajar lingkungan hidup