Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Kopilot Germanwings Pernah Dirawat Psikolog

Admin-1 Sumut Pos • Sabtu, 28 Maret 2015 | 11:34 WIB
Photo
Photo
Kopilot pesawat Germanwings Andreas Gunter Lubitz.

SUMUTPOS.CO - Publik gempar ketika mendengar kabar adanya dugaan Kopilot Germanwings, Andreas Lubitz, dengan sengaja menabrakkan pesawatnya ke Pegunungan Alpen pada Selasa (24/3). Alasannya masih menjadi misteri, tapi Lubitz dikabarkan pernah menjalani perawatan psikologi pada enam tahun silam.


Seperti dilansir Reuters, Jumat (27/3), dugaan tersebut mencuat ketika aparat Perancis menelusuri hasil rekaman perbincangan di kokpit pesawat Airbus A320 tersebut untuk mengetahui penyebab kecelakaan yang menelan nyawa 150 orang ini.


Selama 20 menit pertama, rekaman menunjukkan percakapan biasa antara pilot dan kopilot. Lalu Lubitz mengambil alih kemudi karena pilot harus ke kamar kecil. Lubitz lantas mengunci kokpit sehingga pilot tidak bisa masuk.


Penyidik mengatakan, saat itu Lubitz menekan tombol pada sistem kemudi sehingga pesawat menukik turun. Menurut penyidik, tindakan ini dilakukannya dengan 'sengaja'.


Sepuluh menit terakhir, terdengar pilot menggedor pintu kokpit untuk bisa masuk. Tidak ada kalimat apapun dari kopilot di akhir rekaman, hanya desahan nafasnya yang tenang. Pesawat diketahui jatuh selama delapan menit sebelum akhirnya menabrak Alpen.


Tak ada indikasi Lubitz terlibat aksi terorisme atau semacamnya. Namun, dokumen internal Lufthansa, perusahaan induk Germanwings, menunjukkan bahwa ia pernah menghabiskan total waktu satu setengah tahun untuk menjalani perawatan psikis.


Merujuk pada data tersebut, setelah menunggu selama delapan bulan, akhirnya Lubitz direkrut menjadi awak kabin pada 2008. Namun, ia baru diangkat menjadi pilot Lufthansa pada September 2013.


Dalam konferensi pers, Kepala Eksekutif Lufthansa, Carsten Spohr, memang mengakui bahwa Lubitz pernah rehat dari pelatihannya pada 2009 untuk menjadi pilot pada enam tahun lalu, tapi enggan mengungkap alasannya.


"Saya tidak dapat mengatakan kepada kalian mengenai alasan interupsi tersebut, tapi siapapun yang menginterupsi latihannya harus menjalani banyak tes jadi kompetensi dan kecocokannya akan diperiksa ulang," papar Spohr.


Dengan demikian, Sphor menekankan bahwa Lubitz sangat berkompeten dalam pekerjaannya.


"Enam tahun lalu ada interupsi panjang dalam pelatihannya. Setelah ia bersih, ia kembali menjalani latihan. Ia melewati semua tes susulan dan lolos dengan gemilang. Kemampuan terbangnya sangat memukau," ucap Spohr.


Ketika dimintai konfirmasi masalah kesehatan jiwa Lubitz, juru bicara Lufthansa bungkam.


Sementara itu, beberapa maskapai mulai mengubah peraturan terbangnya merujuk pada indikasi penyebab kecelakaan Germanwings ini. Aturan tersebut mengharuskan dua awak pesawat berada di dalam kokpit selama penerbangan berlangsung.


Dilaporkan Reuters, maskapai yang kini mengharuskan dua awak di dalam ruang kokpit di antaranya adalah Norwegian Air Shuttle, EasyJet (Inggris), Air Canada, Air New Zealand, dan Air Berlin.


Sejumlah maskapai penerbangan dilaporkan bergegas mengubah peraturan mereka dengan mengharuskan dua awak pesawat berada di dalam kokpit selama penerbangan berlangsung.


Langkah ini dilakukan menyusul terungkapnya tindakan kopilot Germanwings yang mengunci diri sendiri di dalam kokpit dan memprogram penukikan tajam yang menyebabkan pesawat nahas itu menabrak lereng Gunung Alpen, Selasa (24/3).


Peraturan seperti ini sebenarnya telah diterapkan di Amerika Serikat. Namun, di banyak negara, salah seorang pilot diperbolehkan meninggalkan kokpit, misalnya untuk ke toilet, asalkan ada pilot lainnya yang mengendalikan penerbangan.


Dilaporkan Reuters, sejumlah maskapai yang kini mengharuskan dua awak di dalam ruang kokpit di antaranya adalah Norwegian Air Shuttle, EasyJet (Inggris), Air Canada, Air New Zealand dan Air Berlin.


Maskapai Kanada menyatakan akan segera memberlakukan aturan tersebut pada semua penerbangan mereka. Semenyata maskapai Ryanair, yang telah lebih dulu menerapkan peraturan ini, menyosialiasikan peraturan ini kepada para penumpang.


Namun, tidak semua maskapai penerbangan menerapkan peraturan tersebut. Salah satu maskapai yang tidak menerapkan peraturan semacam ini adalah Lufthansa, induk perusahaan dari Germanwings.


CEO Lufthansa, Carsten Spohr, menyakini bahwa peraturan semacam ini tidak diperlukan.


"Saya tidak yakin prosedur kami perlu diubah. Ini contoh kasus yang khusus. Tapi kita akan meninjau hal ini dengan berbagai ahli di Lufthansa dan pemerintah. Kita tidak boleh kehilangan kendali dan membuat keputusan jangka pendek," kata Spohr.


Asosiasi penerbangan Jerman, BDL, menyatakan bahwa semua penerbangan di Jerman, termasuk Lufthansa, telah sepakat untuk membahas perubahan aturan tersebut. (bbs/val) Editor : Admin-1 Sumut Pos
#Kopilot pesawat Germanwings Andreas Gunter Lubitz. #Andreas Lubitz