Sumutpos.Jawapos.com-Dalam perang 12 hari melawan Iran, Israel memang berhasil menggapai salah satu tujuannya: menyeret Amerika Serikat (AS) terlibat. Namun, Negeri Yahudi itu jelas gagal memenuhi target utamanya: terjadinya perubahan rezim di negeri yang beribu kota Teheran tersebut.
“Netanyahu sekarang malah mendapati Iran yang tangguh dan bersatu, yang bisa menyerang balik dengan presisi dan disiplin. Yang lebih buruk lagi, dia justru membangunkan apa yang kelak bisa lebih membahayakan bagi Israel: kesadaran baru regional,” tulis Ramzy Baroud, editor Palestine Chronicle dalam opininya di Middle East Monitor (25/6).
Yang juga perlu digarisbawahi, Iran, lanjut penulis buku These Chains Will Be Broken: Palestinian Stories of Struggle and Defiance in Israeli Prisons, menjalani perang ini sendirian, tanpa bantuan Hizbullah, Ansarallah, atau milisi Irak yang selama ini menjadi sekutu mereka.
Hal terpenting lain yang tak bisa diukur dengan rudal atau korban: munculnya kesatuan nasional di Iran dan luasnya dukungan yang mereka peroleh dari dunia Arab dan Muslim. Padahal, lanjut penulis yang juga senior research fellow di Center for Islam and Global Affairs (CIGA) dan Afro-Middle East Center, selama bertahun-tahun Israel dan sekutunya berupaya mengisolasi Iran, mencitrakannya sebagai pariah di dunia Muslim.
“Tapi, yang terjadi dalam beberapa hari ini justru sebaliknya. Dari Baghdad ke Beirut, bahkan di kota yang secara politis lebih berhati-hati seperti Amman dan Kairo, dukungan untuk Iran membumbung. Persatuan ini bisa menjadi tantangan tersulit Israel ke depannya,” tambahnya.
Parlemen Iran telah menyetujui untuk menunda kerja sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Dari 223 legislator, 221 di antaranya mendukung penundaan dan tak ada yang menentang. Pengesahan akhir berada di tangan Dewan Wali.
“IAEA gagal menjalankan tugas, dan menjadi alat politik,” kata Mohammad Bagher Ghalibaf, juru bicara Parlemen Iran seperti dikutip dari The Guardian.
Menurut Baroud, jika benar Teheran memutuskan menarik dari Perjanjian Nuklir Non-Proliferasi, bahkan jika hanya untuk sementara, dan berhasil menunjukkan kalau program nuklir mereka masih berfungsi, apa yang disebut sebagai “raihan” Israel bakal sia-sia. (ttg/jpg)
Editor : Johan Panjaitan