Sumutpos.jawapos.com Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump punya kuasa untuk turut menghentikan genosida di Jalur Gaza. Tapi, dengan kekuasaan di tangannya, dia justru mengotorisasi suplai senjata ke Israel. Trump bahkan juga melibatkan militer negaranya menggempur Iran, juga atas permintaan Negeri Yahudi tersebut.
Masih banyak kebijakan kontroversial Trump lainnya. Tapi, Gedung Putih dengan yakinnya menyebut kalau presiden dua periode itu layak mendapatkan Nobel Perdamaian. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut, sejak kembali duduk di kursi kepresidenan pada 20 Januari tahun ini, Trump telah “memediatori, rata-rata, satu kesepakatan damai atau gencatan senjata per bulan.”
India versus Pakistan, Kamboja melawan Thailand, dan Mesir versus Ethiopia disebut Leavitt sebagai contoh konflik yang dimediatori Trump, sebagaimana dilansir AFP kemarin (3/8). Ironisnya, Leavitt juga menyebut, serangan ke fasilitas nuklir Iran sebagai salah satu kontribusi bosnya untuk perdamaian dunia.
Sebelumnya, Israel dan Pakistan telah menominasikan Trump untuk mendapatkan penghargaan bergengsi itu. Awal bulan lalu, Presiden Liberia, Mauritania, Guinea-Bissau dan Gabon ketika ditanya perihal serupa saat berkunjung ke Gedung Putih, jawaban mereka membuat Trump dengan percaya diri berkata, “Kita bisa melakukan ini seharian penuh.”
Pengumuman Nominasi
Pengumuman nominasi Nobel akan dilakukan pada 10 Oktober. Banyak pihak yang menganggap Trump, atas semua kebijakannya, tak pantas mendapatkannya.
“Menominasikan Trump untuk Nobel Perdamaian seperti memasukkan hyena ke pertunjukan anjing,” tulis peneliti politik dan sejarah AS, Emma Shortis, di situs berita The Conversation.
Garret Martin, guru besar hubungan internasional di American University Washington DC, menyebut, Trump sosok yang sangat haus penghargaan. “Jadi, dia akan senang sekali kalau bisa mendapatkan penghargaan internasional,” katanya.
Karena itu pula, sejak mengobarkan ambisi menjadi presiden, dia menempatkan diri sebagai kutub di seberang Barack Obama. “Dan, Barack Obama, kita tahu, memenangi Nobel Perdamaian 2009,” katanya.
Baca Juga: 90 Kantong ASI Lesti Kejora Nyaris Gagal Terbang ke Indonesia
Selain Obama, tiga presiden AS lainnya juga diganjar Nobel Perdamaian: Theodore Roosevelt, Woodrow Wilson dan Jimmy Carter. Henry Kissinger, ketika itu menteri luar negeri, juga memenangi penghargaan serupa karena dianggap berjasa mengakhiri Perang Vietnam.
Tapi, kemenangan Kissinger itu banyak menuai kritik. Di sejumlah bursa taruhan, Trump diunggulkan di posisi kedua. Unggulan teratas adalah Yulia Navalnaya, janda tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny. (ttg/jpg)
Editor : Johan Panjaitan