Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Ribuan Tewas dalam Gelombang Protes Iran, Khamenei Tuduh Konspirasi Asing

Johan Panjaitan • Senin, 19 Januari 2026 | 07:00 WIB

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (express.co)
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (express.co)

TEHERAN, Sumutpos.jawapos.com-Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhirnya mengakui jatuhnya ribuan korban jiwa dalam gelombang protes besar yang mengguncang Iran selama dua pekan terakhir. Pengakuan tersebut disampaikan dalam pidato resmi pada Kamis (17/1), sebagaimana dilaporkan The Guardian. Pernyataan ini menjadi yang pertama dari Khamenei sejak kerusuhan meluas di berbagai kota.

Dalam pidatonya, Khamenei mengakui bahwa sebagian korban tewas dalam kondisi mengenaskan.


“Sebagian korban dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi dan biadab,” ujarnya. Namun, alih-alih mengakui tanggung jawab negara, Khamenei justru menyalahkan Amerika Serikat dan secara langsung mengecam Presiden Donald Trump, yang ia sebut sebagai kriminal karena secara terbuka mendukung demonstrasi anti-pemerintah di Iran.

Baca Juga: Meski Akses Jalan Masih Terbatas, BPH Migas Jamin Pasokan BBM Jangkau Wilayah Terdampak Bencana Aceh

Khamenei menegaskan bahwa protes tersebut bukanlah gerakan rakyat murni, melainkan bagian dari konspirasi asing yang bertujuan mengguncang stabilitas negara. Ia pun menyerukan tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa.
“Dengan rahmat Tuhan, bangsa Iran harus menghancurkan kekuatan para penghasut sebagaimana mereka telah menghancurkan kekuatan penghasutan itu sendiri,” katanya, seraya menegaskan bahwa negara tidak akan memberi toleransi sedikit pun terhadap apa yang disebutnya sebagai campur tangan asing.

Nada serupa disuarakan ulama garis keras Ahmad Khatami, yang secara terbuka menyerukan hukuman mati bagi demonstran bersenjata. Dalam khutbahnya, Khatami menyebut para pengunjuk rasa sebagai “munafik bersenjata” serta menuding mereka sebagai kaki tangan dan tentara Israel serta Amerika Serikat.

Sementara itu, kelompok-kelompok hak asasi manusia melaporkan angka korban yang jauh lebih tinggi dari klaim resmi pemerintah. Lebih dari 3.090 orang dilaporkan tewas dan sedikitnya 22.100 orang ditangkap sejak protes pecah. Laporan tersebut memicu kekhawatiran luas mengenai praktik penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi terhadap para tahanan.

Baca Juga: Warga Buang Sampah Sembarangan di Pasar Kampung Lalang, DPRD Minta Penambahan WRS

Gelombang protes bermula pada 28 Desember 2025, ketika para pedagang turun ke jalan memprotes anjloknya nilai mata uang rial. Dalam waktu singkat, aksi tersebut berkembang menjadi tuntutan politik terbuka untuk menggulingkan pemerintahan, memicu kerusuhan paling mematikan di Iran sejak Revolusi Islam 1979.

Meski aksi demonstrasi kini mereda akibat penindakan brutal aparat keamanan dan pemadaman internet nasional, ketegangan politik di Iran belum sepenuhnya mereda. Ketidakpuasan publik, krisis ekonomi, serta tekanan internasional terus membayangi stabilitas pemerintahan Teheran.

Editor : Johan Panjaitan
#tewas #ayatollah ali khamenei #iran #gelombang protes