sumutpos.jawapos.com - CEO Mark Zuckerberg memberikan kesaksian langsung dalam sidang di Los Angeles pada Rabu (18/2/2026), terkait tuduhan bahwa platform media sosial, khususnya Instagram, dirancang untuk membuat penggunanya kecanduan.
Dalam persidangan tersebut, dilansir dari Instagram @pandemictalks, Sabtu (21/2/2026), Zuckerberg yang memimpin Meta membantah keras klaim bahwa perusahaannya secara sengaja menciptakan fitur-fitur yang mendorong ketergantungan.
Ia menegaskan bahwa fokus Meta saat ini adalah meningkatkan manfaat, keamanan, dan utilitas layanan bagi pengguna, bukan sekadar memperpanjang durasi penggunaan.
Menurutnya, waktu yang dihabiskan pengguna di platform bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Ia menyatakan bahwa Meta terus berupaya mengembangkan fitur yang memberi nilai positif, termasuk pengaturan waktu penggunaan dan kontrol orang tua.
Dalam persidangan terpisah di California, CEO Instagram, Adam Mosseri, juga memberikan keterangan mengenai dampak media sosial terhadap kesehatan mental, terutama pada remaja. Saat ditanya mengenai kasus pengguna yang tercatat menghabiskan waktu hingga 16 jam per hari di Instagram, Mosseri menyebut durasi tersebut sebagai penggunaan yang “bermasalah” (problematic use).
Namun, ia menolak menyebutnya sebagai kecanduan secara klinis. Menurut Mosseri, istilah kecanduan memiliki definisi medis yang kompleks dan tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan lamanya waktu penggunaan. Ia menekankan bahwa diagnosis kecanduan harus melibatkan evaluasi profesional kesehatan mental, bukan sekadar angka durasi harian.
Persidangan ini merupakan bagian dari gugatan besar yang menuding platform media sosial merancang pengalaman yang bersifat adiktif dan berpotensi merugikan generasi muda. Para penggugat menilai desain fitur seperti notifikasi, algoritma rekomendasi, dan sistem umpan balik sosial dapat mendorong penggunaan berlebihan.
Sementara itu, pihak perusahaan berargumen bahwa penggunaan yang panjang tidak otomatis berarti kecanduan. Mereka juga menyatakan telah melakukan berbagai penyesuaian kebijakan dan fitur untuk mendukung kesejahteraan digital pengguna.
Sidang ini langsung memicu perdebatan panas di media sosial. Banyak netizen yang terbelah dalam menyikapi pernyataan petinggi Meta dan Instagram tersebut.
“Kalau bukan dibuat bikin candu, kenapa algoritmanya tahu banget apa yang kita suka?” tulis seorang pengguna.
Netizen lain menyoroti durasi penggunaan ekstrem. “16 jam sehari itu bukan cuma ‘bermasalah’, itu sudah lampu merah. Harusnya ada batas otomatis,” komentar akun lainnya.
Baca Juga: Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Fauzi Minta Kelurahan Data Ulang Masyarakat
Namun, ada juga yang membela. “Semua tergantung penggunanya. Jangan salahkan aplikasinya kalau kita sendiri tidak bisa mengatur waktu,” tulis netizen berbeda.
Sebagian warganet menilai istilah kecanduan memang tidak bisa disederhanakan. “Setuju sih, kecanduan itu diagnosis medis. Tapi perusahaan juga harus tanggung jawab soal desain yang bikin orang betah scroll berjam-jam,” tulis komentar lain.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa isu penggunaan media sosial dan kesehatan mental masih menjadi topik sensitif dan kompleks. Apa pun hasil sidang, publik tampaknya akan terus menuntut transparansi dan perlindungan lebih besar bagi pengguna, terutama generasi muda. (lin)
Editor : Redaksi