Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Uni Emirat Arab Cegat 1.072 Drone dan Rudal, Qatar Tutup Penerbangan di Tengah Eskalasi Konflik

Johan Panjaitan • Minggu, 8 Maret 2026 | 09:45 WIB

IUSTRASI: Uni Emirat Arab mengklaim telah menghambat seribu lebih drone dan rudal di tengah meningkatkannya inskalasi konflik. (FREEPIK)
IUSTRASI: Uni Emirat Arab mengklaim telah menghambat seribu lebih drone dan rudal di tengah meningkatkannya inskalasi konflik. (FREEPIK)

Sumutpos.jawapos.com-Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kini merembet ke kawasan Teluk. Sejumlah negara di wilayah tersebut meningkatkan kewaspadaan setelah gelombang serangan drone dan rudal dilaporkan mengarah ke wilayah mereka.

Pada Jumat (7/3) dini hari, United Arab Emirates kembali dilaporkan mengalami serangan udara besar-besaran. Suara ledakan dari sistem pencegat pertahanan udara terdengar berulang kali di langit Abu Dhabi dan Dubai, menandai upaya militer menangkis proyektil yang masuk.

Koresponden Euronews, Jane Witherspoon, yang melaporkan dari Dubai mengatakan bahwa suara ledakan terdengar hampir tanpa henti sepanjang malam.

“Seorang narahubung di Bandara Internasional Abu Dhabi mengatakan mendengar ledakan pencegatan kira-kira setiap 20 detik,” ujarnya.

Sirene peringatan dan alarm publik juga berbunyi berkali-kali, membuat warga di sejumlah kota besar tetap terjaga hingga pagi dalam suasana waspada.

Ribuan Drone dan Rudal Dicegat

Otoritas pertahanan udara UEA menyebutkan bahwa sejak konflik dengan Iran meletus pada 28 Februari lalu, mereka telah mencegat sedikitnya 1.072 drone, 196 rudal balistik, serta delapan rudal jelajah yang diarahkan ke wilayah negara tersebut.

Meski sebagian besar serangan berhasil digagalkan, intensitas ancaman tetap memicu kecemasan di kalangan masyarakat.

Banyak warga sebelumnya mengira konflik hanya berlangsung singkat. Namun setelah beberapa hari serangan terus terjadi, rasa khawatir mulai meningkat.

“Banyak orang mengira semuanya seharusnya sudah selesai sekarang. Walaupun situasi tampak terkendali, rasa cemas semakin meningkat,” kata Witherspoon.

Qatar Perketat Keamanan

Ketegangan juga dirasakan di Qatar. Pada Jumat malam, warga tiba-tiba menerima peringatan darurat melalui ponsel mereka.

Tak lama kemudian, Kementerian Pertahanan Qatar mengumumkan bahwa sebuah drone yang menargetkan pangkalan udara Al Udeid Air Base berhasil dicegat.

Pangkalan tersebut merupakan fasilitas militer terbesar Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan menjadi pusat operasi militer Washington di wilayah Teluk.

Pemerintah Qatar segera mengimbau masyarakat untuk menghindari kerumunan di ruang terbuka sebagai langkah pencegahan.

Penerbangan Terganggu

Dampak konflik juga terasa di sektor transportasi udara kawasan Teluk.

Bandara di Dubai mulai kembali mengoperasikan sejumlah penerbangan pada Jumat, meski beberapa jadwal masih mengalami penundaan akibat ancaman serangan udara.

Di Abu Dhabi, aktivitas penerbangan juga mulai meningkat. Etihad Airways bahkan menyatakan akan menambah layanan penerbangan untuk mengatasi penumpukan penumpang.

Namun secara keseluruhan, hampir 20.000 penerbangan di kawasan Teluk telah dibatalkan sejak akhir pekan lalu.

Sementara itu, wilayah udara Qatar masih ditutup untuk penerbangan komersial. Hamad International Airport menyatakan sedang bekerja sama dengan maskapai untuk membantu penumpang melanjutkan perjalanan mereka.

Di tengah situasi yang memanas, negara-negara Teluk dinilai berada dalam posisi yang rumit. Mereka memiliki kepentingan strategis untuk melihat Iran melemah, tetapi juga khawatir terhadap dampak konflik yang lebih luas.

Laporan PBS menyebut sejumlah pejabat negara Teluk merasa sistem pertahanan udara mereka tidak sekuat Israel.

Mantan utusan khusus Amerika Serikat untuk Iran, Elliott Abrams, mengatakan negara-negara di kawasan itu menyadari risiko besar dari kemungkinan serangan Iran.

“Negara-negara tetangga mengetahui risiko itu dan mereka takut akan hal tersebut,” ujarnya.

Namun Abrams menilai belum jelas apakah Iran benar-benar akan meningkatkan skala serangan karena langkah itu juga berpotensi merugikan Teheran sendiri.

Pandangan serupa disampaikan mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Arab Saudi, Michael Ratney. Menurutnya, negara-negara Teluk menghadapi dilema besar antara kepentingan geopolitik dan stabilitas kawasan.

“Pertanyaan terbesarnya adalah apa yang akan terjadi selanjutnya. Negara-negara Teluk kemungkinan harus menanggung dampak terberat dari konflik ini,” katanya.

Jika eskalasi terus meningkat, kawasan Teluk yang selama ini menjadi pusat perdagangan, energi, dan transportasi global berpotensi menghadapi gangguan ekonomi yang jauh lebih luas.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan