NEW YORK, Sumutpos.jawapos.com – Industri penerbangan global kembali memasuki fase turbulensi. Lonjakan harga minyak dunia—yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah—memaksa maskapai mengambil langkah tak populer: menaikkan tarif tiket sekaligus memangkas kapasitas penerbangan.
Tekanan terbesar datang dari kenaikan harga avtur yang hampir dua kali lipat. Kondisi ini menggerus proyeksi optimistis industri yang sebelumnya memperkirakan laba global mencapai USD 41 miliar pada 2026. Kini, target tersebut berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian.
Sejumlah maskapai besar seperti United Airlines, Air New Zealand, dan Scandinavian Airlines telah lebih dulu menyesuaikan strategi. Pengurangan kapasitas ditempuh untuk menekan biaya operasional, sementara kenaikan tarif menjadi opsi untuk menjaga margin keuntungan. Sebagian lainnya memilih menerapkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge).
Baca Juga: Italia vs Bosnia: Gli Azzurri Tak Mau Gagal untuk Ketiga Kali
“Maskapai menghadapi tantangan eksistensial,” ujar Rigas Doganis, mantan pimpinan Olympic Airways. Ia menyebut situasi saat ini sebagai “badai sempurna”—ketika kebutuhan menjaga permintaan bertabrakan dengan lonjakan biaya yang tak terhindarkan.
Dilema itu nyata. Di satu sisi, harga tiket idealnya tetap kompetitif agar permintaan tidak anjlok. Di sisi lain, biaya bahan bakar yang melonjak memaksa maskapai menaikkan harga demi bertahan.
Momentum Positif yang Tertahan
Ironisnya, tekanan ini datang di saat industri penerbangan tengah menikmati pemulihan kuat pascapandemi. Lalu lintas penumpang global bahkan telah melampaui level sebelum pandemi, mencatat rekor baru dengan kenaikan sekitar 9 persen.
Namun, pemulihan tersebut dibayangi keterbatasan pasokan pesawat baru akibat gangguan rantai pasok global. Kondisi ini secara alami membatasi kapasitas—dan kini diperparah oleh kebijakan pengurangan jadwal penerbangan.
Menurut Andrew Lobbenberg, strategi paling efektif untuk menaikkan harga adalah dengan mengurangi kapasitas. Pendekatan ini mulai terlihat di berbagai pasar utama.
CEO United Airlines, Scott Kirby, bahkan menyebut tarif tiket perlu naik sekitar 20 persen untuk menutup lonjakan biaya bahan bakar.
Baca Juga: Ceko vs Denmark: Duel Kontras, Bola Mati Narodak Tantang Agresivitas Danish Dynamite
Sementara itu, Cathay Pacific telah dua kali menaikkan fuel surcharge dalam sebulan terakhir. Untuk rute jarak jauh seperti Sydney–London, tambahan biaya mencapai USD 800—angka yang cukup signifikan bagi penumpang.
Maskapai berbiaya rendah menjadi pihak paling rentan dalam situasi ini. Basis pelanggan mereka yang sensitif terhadap harga membuat ruang untuk menaikkan tarif menjadi terbatas, berbeda dengan maskapai premium yang melayani segmen korporasi dan kelas atas seperti Delta Air Lines.
Guncangan Berulang Industri
Lonjakan harga energi kali ini menandai guncangan keempat bagi industri penerbangan sejak awal abad ke-21. Sebelumnya, tekanan serupa terjadi pada periode 2007–2008 menjelang krisis finansial global, gejolak Arab Spring pada 2011, serta lonjakan harga pascaperang Rusia–Ukraina pada 2022.
Menurut Dan Taylor, situasi saat ini berpotensi memperlebar jurang antara maskapai kuat dan lemah. Perusahaan dengan neraca sehat dan akses pendanaan yang baik akan lebih tangguh menghadapi tekanan, sementara maskapai dengan profitabilitas tipis berisiko terhimpit.
Di tengah badai biaya ini, industri penerbangan kembali dihadapkan pada realitas lama: bahwa langit bukan hanya soal jarak dan waktu, tetapi juga tentang ketahanan menghadapi fluktuasi energi global.
Ketika avtur melonjak, harga tiket mengikuti. Dan bagi maskapai, bertahan di udara kini menjadi tantangan yang semakin mahal.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan