SUMUT POS- Perundingan Iran dan Amaerika di Islamabad tidak menemukan titik jemu. Padahal, perundingan sudah dilakukan sejak Sabtu (11/4/2016) hingga Minggu (12/4/2026).
Perundingan yang berlangsung selama 21 jam diinisiasi oleh Pakista saat Iran dan Amerika Serikat sedang gencatan senjata selama 2 minggu.
Di sisi lain, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai diskusi yang "intens".
Baca Juga: China Tutup Sebagian Wilayah Udara, Bagaimana Nasib Atlet Indonesia?
Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan negosiasi bergantung pada "keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan."
Baqaei juga menyerukan kepada Washington untuk menahan diri dari "tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum".
Selain itu, dia juga menegaskan agar AS menerima "hak dan kepentingan sah" Iran.
Di antara topik yang menurutnya yang menjadi pembahasan adalah Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan "pengakhiran total perang di Iran".
"Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran jauh lebih daripada bagi Amerika Serikat," kata Wakil Presiden JD Vance, kepala delegasi AS, kepada wartawan sesaat sebelum ia meninggalkan Islamabad.
"Jadi kami kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kami," tambahnya, dikutip dari Reuters.
Vance mengatakan Iran telah memilih untuk tidak menerima syarat-syarat AS, termasuk tidak membangun senjata nuklir.
"Kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mengejar senjata nuklir dan tidak akan mengejar alat-alat yang memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai senjata nuklir. Itulah tujuan utama Presiden AS, dan itulah yang kami coba capai melalui negosiasi ini," tutur Vance. (bbs/ram)
Editor : Juli Rambe